CORETANTANGANKU
Blog ini kujejali dengan segala macam tulisan yang memang merupakan karyaku. Sebenarnya tak hanya tentang aku, tentang apapun mungkin saja bisa ter-list dalam blog ini.
Jumat, 17 Mei 2013
Senin, 14 Mei 2012
Untitled
Pernahkah kau merasa seperti yang
kurasa? Tiba-tiba pikiranmu terhenyak memikirkan untuk apa hidup ini
sebenarnya. Atau punyakah kau tujuan hidup? Mungkin tak semua orang pernah
memikirkan hal itu, bahkan menganggap tak ada yang dapat dipermasalahkan dari pertanyaan
itu.
Suatu ketika, aku tak terlalu
ingat dengan hari itu, jujur hatiku sangat gelisah. Pikiranku tergelitik dengan
satu pertanyaan yang datang dengan tiba2. Hidupku di dunia ini sudah 18 th
lamanya. Aku pun sekarang sudah berada di suatu tempat yang mungkin banyak
orang menginginkannya, tapi tak seberuntung aku. Status pun sudah menempel di
diriku. Ya, aku seorang mahasiswa, mahasiswa dari sebuah insitusi ternama di
negeri ini, Institut Teknologi Bandung. Kata itu mungkin terdengar tak familiar di kalangan orang-orang yang
kurang mengerti dengan hiruk pikuk pendidikan di negeri ini. Namun lain halnya dengan
para pelaku pendidikan atau orang-orang yang hanya mengamatinya saja dari
kejauhan. Sekilas hal itu mungkin hanyalah suatu berkah untukku. Tapi tahukah
kau, bahwa ternyata kenyataan itu tak cukup hanya sebagai suatu berkah atau
anugerah saja dari Yang Kuasa. Beberapa embel-embel
pun akhirnya muncul dan kusadari belakangan ini. Aku teringat dan kutemukan
sebuah kata yang aku rasa memiliki makna yang besar dan mendalam, sebuah
tanggung jawab. Tanggung jawab serupa apa? Aku yakin, tanggung jawab itu sangat
agung dan tiada tara. Mungkin sedikit berlebihan nampaknya dengan kata itu,
tapi entahlah aku tak sedikitpun ragu dengan hal itu. Tanggung jawab dengan
level yang tinggi akan muncul dari sebuah kenyataan itu. Berada di suatu tempat
yang besar secara nama dan bukan main-main, bahwa itu dalam suatu kalangan
bangsa, maka akan muncul suatu “tekanan” dari sisi manapun, dari dalam diri ataupun
dari sisi eksternal. Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaan
ini, yang jelas untuk saat ini aku merasakan hal semacam itu. Ketika kau
ditekan agar bisa melakukan ini itu, ketika kau ditekan agar bisa menjadi
seorang ahli dalam bidang tertentu, tekanan untuk membuatmu dapat melakukan
segala hal, terkadang sesaat akan mengenyahkan semua pikirmu dan muncullah
suatu tanya, apa tujuan hidupmu sebenarnya? Jujur, seringkali kuabaikan
pertanyaan itu dalam benakku karena nyatanya aku belum mengerti dan aku pun belum
mendapatkan jawaban apa yang tepat untuk melengkapi tanya itu. Kosong dan
hening, mungkin tak hanya dalam pikiranku tapi juga dalam hatiku. Tak boleh kuhindari,
tak boleh aku lari dari segala kenyataan ini. Aku menanggung sebuah tanggung
jawab besar, tanggung jawab yang kurasa tak hanya kepada diriku sendiri,
keluarga dekat, teman-teman, sahabat, tapi bahkan kepada masyarakat negeri ini.
Tak bisa dipungkiri, ada sebagian uang mereka yang telah membuatku bisa
bertahan untuk tetap bersekolah dan mendapat pendidikan di tempat mahal itu.
Keringat dan jerih payah mereka harus kubalas dengan apapun yang bisa
kulakukan, sesuatu yang akan mengangkat bangsa ini dari segala keterpurukannya,
segala kelemahannya. Tanggung jawab itu memang untukku, untuk semua generasi
penerus bangsa ini. Munculnya tanggung jawab itu, teriring pula dengan tujuan hidupku.
Apa yang kucari sebenarnya? Sebuah kekayaan atau kejayaan yang aku dapat dari
gelar atau title-title yang akan menempel di belakang namaku? Ataukah tujuan
mulia, yang mungkin umum didengar orang tapi entahlah dalam implementasinya.
Terpikir olehku, aku ingin mendedikasikan hidupku untuk bangsa dan tanah air. Naif
memang kedengarannya. Namun kuakui tujuan itu memang mulia bukan? Aku yakin,
Tuhan pasti akan membimbingku dalam mencapai salah satu tujuan hidupku itu.
Sabtu, 11 Februari 2012
Jeritan Hati
Kala sesuatu merasa
Menggelitik naluri, menggoda hati
Entah apa, tak kuasa kumengerti
Rangkaian kata kualunkan dengan nada menjadi lagu
Melukiskan indahnya rasa yang kupendam
Tanyaku pada siapa tentang rasa yang datang
Ucapnya, itu bukan rasa yang punya nama cinta
Cinta tak beralasan,
Namun rasaku padamu punya beribu alasan
Matamu teduh mengisyaratkan banyak makna,
Bibirmu tenang menguatkan banyak isyarat di matamu,
Caramu berjalan sungguh tak pernah kubayangkan,
Caramu berpikir menyuguhkan banyak takjub untukku
Tidakkah semua mengisyaratkan cintaku padamu
Aku yakin, aku percaya
Aku cinta padamu wahai kasih
Tak tahukah engkau akan rasaku yang sungguh dalam?
Sungguh, harapku kan kugantung di depanmu
Takkan ada bosan yang terucap bahwa cintaku memang padamu
Galih....
Mendungnya
awan di langit biru itu tak sedikitpun memengaruhi hati Galih yang cerah saat
ini. Aku sungguh mengerti perasaannya, terlihat jelas dari senyumnya di tengah
lamunan, memudahkanku memahami gambaran hatinya saat ini. Namun, tiba-tiba saja
rintik-rintik air hujan turun membasahi bumi dan seketika membuyarkan lamunan
Galih. Melihat hal itu, aku pun tersenyum geli dan segera menutup tirai jendela
yang sedari tadi kugunakan untuk mengintip Galih.
Namaku
Yuliana Dewi. Seluruh temanku biasa menyingkatnya dengan Yuli. Aku tinggal
dalam suatu perumahan di Jakarta. Perumahan itulah yang secara kebetulan juga
dijadikan tempat tinggal oleh Galih dan keluarganya. Ya, Galih adalah
tetanggaku, tetangga terdekatku. Rumahnya tak lebih dari tiga meter terpisah
dengan rumahku. Galih bukanlah sekadar tetangga bagiku. Bahkan, keluarganya pun
sudah keuanggap sebagai keluargaku sendiri.
Galih
adalah pria yang sangat baik. Sebagai seorang anak tunggal, aku senang memiliki
teman seperti Galih yang mau dan selalu bersedia menjadi kakakku. Dia memang
lebih tua dariku. Namun, aku sangat nyaman berada di dekatnya, dirangkul
olehnya layaknya kepada adik kesayangannya. Galih adalah segalanya untukku
sehingga takkan pernah kurelakan siapapun menyakitinya.
Dering
telepon kamarku sontak mengagetkanku, melepas segala bayang tentang Galih.
“Halo,”
terdengar suara yang tak mungkin asing bagiku di seberang sana. Bahagia dan
senang seperti biasa ketika aku mendengar suaranya, memandang wajahnya, bahkan
hanya ketika menghirup aroma tubuhnya. “Nanti sore temenin gue nyari sesuatu
yuk”, lanjut suara dari telepon itu. Tak lain dan tak bukan dialah Galih.
Seperti biasa waktuku pun selalu rela jika harus kuhabiskan dengannya.
Sudah
bertahun-tahun lamanya keluargaku mengenal keluarganya, begitu juga denganku
terhadapnya. Hari-hariku 80% bersamanya dan ceritaku tak ada yang kulewatkan
untuk kusampaikan padanya.Hingga sudah tak aneh lagi mengetahui segala
kekurangannya dan tak takjub lagi aku mengerti kelebihannya. Yang hanya kuingin
dan kutahu, aku selalu nyaman berada di dekatnya, aku merasa terlindungi berada
di sampingnya, dan aku ingin selalu bersamanya.
Suatu
siang, aku sedang duduk santai di dalam rumah, di dekat suatu jendela seperti
biasa agar aku bisa melihat langsung kea rah rumah Galih. Entah mengapa aku senang
melakukan kebiasaan itu. Namun tiba-tiba saja terlihat sebuah mobil keluar dari
dalam rumahnya. Aku yakin, pastilah itu bukan Galih karena Galih akan selalu
memberitahuku jika ia ingin pergi kemanapun. Beralih dari memandang rumah
Galih, kulanjutkan aktivitas membacaku.
Karena merasa bosan, kuputuskan untuk main ke
rumah Galih dan mengobrol bersamanya untuk membunuh waktu-waktu yang kosong
tanpa kegiatan. Sesampai di rumah Galih, kosong tak tampak siapapun menghuni
rumah itu. Kucoba buka pintunya berulang kali, tapi tetap saja tidak
menghasilkan. “Yasudahlah nanti saja gue kesini lagi”, pikirku.
Waktu berganti kuulangi pergi ke rumahnya,
tapi tak ada perubahan, nihil. Rumahnya tetap saja kosong seperti waktu tadi. Yang
membuatku heran, bahkan pembantunya juga tak tampak di rumah itu. Rumah itu
benar-benar kosong dan sepi. Mungkin saja mereka ke luar kota, tapi mengapa
Galih tak memberikan kabar apapun untukku? Sempat kurasakan kecewa ketika
memikirkan hal itu.
Tak
ada yang tahu tentang kepergian Galih dan keluarganya. Hari berganti, selalu
kucoba tuk pergi ke rumahnya dan berharap keadaan akan kembali seperti semula
dengan keberadaan Galih dan keluarganya. Namun rumah itu tetap dalam
keheningannya tanpa penghuni. “Astaga, kemana perginya mereka?” aku putus asa.
Ternyata
keadaan itu berlangsung tak singkat. Hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan,
bahkan hampir satu tahun tak ada kabar dari Galih dan keluarganya. Keluargaku
dan tetangga sekitar pun tak ada yang tahu tentang hal itu. Sudah beribu kali
kucoba menelepon semua nomor yang kutahu akan terhubung dengannya, tapi tak ada
yang bisa. Rasa rinduku begitu dalam untuk Galih. Aku rindu menghabiskan setiap
waktuku bersamanya, aku rindu mendengarkan segala ceritanya, aku rindu
sembunyi-sembunyi memperhatikannya, dan aku rindu semua tentangnya. Pernah
suatu ketika terlintas di pikirku bahwa aku mencintai Galih. Ya, tak salah lagi
bahwa aku benar-benar mencintainya. Inginku memilikinya tak hanya sebatas
sebagai kakak, inginku hanya dia untukku, tidak untuk orang lain. Aku memang
mencintai Galih, aku terlambat mengerti perasaanku ini terhadapnya dan sekarang
aku menderita dalam sebuah ruang kerinduan yang kosong akan kehadiran dan
keberadaannya.
Tiba-tiba saja aku mendengar kabar bahwa
Galih dan keluarganya sudah kembali dari pergi panjangnya. Dengan sedikit
keraguan, aku berusaha membuat kakiku berlari kencang menuju rumah Galih.
Bahagia bukan kepalang berita itu benar dan aku melihat sesosok laki-laki itu
di depanku. Tanpa berpikir panjang aku memeluk erat tubuh seseorang di
hadapanku, Galih. Namun tiba-tiba saja ibu Galih dengan ramah menyuruhku
melepaskan pelukan itu dan langsung menggandeng Galih masuk ke dalam rumahnya.
Ada
yang tak biasa dengan sikap semua orang dan baru kusadari Galih pun tak
bersikap layaknya seperti biasa. Ia hanya diam dengan wajah pucatnya dan tubuh
kurusnya. Dia tampak begitu lemas dan kurasa sekarang ini dia sedang sakit.
Lantas kemana perginya mereka selama ini? Tuhan, aku takut. Aku ingin keadaan
ini kembali seperti sediakala.
Selidik
demi selidik, kudapatkan ternyata Galih memang sedang sakit. Kepergiannya
selama ini adalah untuk memberikan pengobatan untuk penyakitnya itu. Namun rupanya
usaha itu tak menghasilkan apapun untuk Galih, bahkan penyakitnya kini kian
menggerogoti tubuhnya. Aku tak tahu pasti sebenarnya penyakit apa yang sedang
bersarang di tubuh Galih itu. Setiap hari selalu kucoba luangkan waktu untuk
menjenguk Galih tapi rupanya ibunya tak mengizinkanku untuk menemui Galih.
Sudah bersikeras kutunjukkan niatku untuk menemui Galih, tapi ternyata memang
tak ada celah untukku. “Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi pada Galih?”,
keluhku pada-Nya.
Di
suatu siang bolong, kudengar kabar yang paling menyedihkan, paling menyakitkan,
dan paling mengejutkan di sepanjang hidupku. Galih telah tiada dan pergi dari dunia
ini untuk selamanya. Tak sadar rasanya aku menjerit pilu mendengar kabar itu.
Dengan tak percaya, kuberlari menuju rumah Galih untuk membuktikan
ketidakbenaran berita itu. Sesampainya di sana, terlihat sesosok tubuh yang
terbaring diam di ruang tengah, terbujur kaku, dan terlihat pucat kulitnya.
Dengan setengah kosong aku menatapnya. Aku pun mendekat ke tubuh itu dan
langsung memeluk erat tubuhnya dengan tangisan yang tak dapat keluar dari
mulutku. Aku tak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarku. Yang
kuinginkan saat ini hanyalah memeluknya erat dan menenggelamkan tubuhku
bersamanya. Terbayang segala kenangan yang kulalui bersamanya selama ini,
terbayang segala kesediaannya menemaniku selama ini. Ingin kuteriakkan saat itu
juga, “TUHAAAN JANGAN KAU AMBIL GALIH DARIKU”. Belum puas rasanya aku menjalani
hari-hariku bersamanya. Tak pernah sekilas pun terpikirkan olehku bahwa suatu saat
aku harus berpisah dan harus hidup sendiri tanpanya di sisiku. Ingin sekali
kembali kuulang waktu-waktuku saat bersamanya. Belum sempat kusampaikan
perasaan yang terlambat kusadari ini, bahwa sebenarnya aku mencintainya. “Ya
Tuhan, tolong putarlah waktu agar dia tahu sebenarnya aku mencintainya Tuhan”.
Hari-hari tanpanya di dunia ini, begitu
sulit rasanya meyakini bahwa sosoknya sudah tiada. Sekarang dia sudah berada di
tempat yang nyaman karena terbebas dari rasa sakitnya. “Ah mungkin memang sudah
seharusnya aku mengikhlaskan Galih pergi”, pikirku mencoba tegar.
“Yuli, ada yang ingin menemuimu sayang”,
suara mama mengagetkan dan membuyarkan lamunanku. Muncul sesosok wanita yang
sudah sangat kukenal dan sayang, dialah ibu Galih. Aku sempat kaget melihat
beliau tiba-tiba ingin menemui dan berbicara denganku.
“Yuli, sebenarnya tante kesini ingin
menyampaikan amanah dari Galih”, ibu Galih memulai pembicaraan itu.
Mendengarnya jantungku tiba-tiba berdegup kencang.
“Amanah apa ya tante?”, jawabku
terdengar penasaran.
Tanpa berbelit-belit, beliau pun
menyampaikan amanah yang dimaksudnya.
“Sebenarnya selama ini Galih
mencintai kamu Yuli”.
Kurasakan hening dan hampa secara
tiba-tiba, kosong.
Langganan:
Postingan (Atom)


