Selasa, 17 Mei 2011

Kuasa Emosi

Suatu pekerjaan yang aku yakin tak satupun orang menyukainya. Yep menunggu. Menunggu waktu, menunggu kedatangan seorang teman, entah apapun itu, pasti membuat hati setiap orang kesal. Saat inilah, aku harus melalui perasaan itu. Hari ini, pada jam ini, Rena, temanku sudah janji untuk datang ke sebuah acara bersamaku.

SUDAH SIAP BELUM?, tulisku dalam layar pesan singkat dan mengirimnya ke nomor temanku.

Perasaan sebel dan bongko perlahan membuncah dan berkecamuk dalam dada ketika lama aku menunggu balasan sms darinya. Detik demi detik dan menit demi menit pun berlalu. Tak ada bunyi dering apapun yang keluar dari handphoneku. Hanya irama lagu yang berasal dari radio yang tetap menemaniku dalam penantianku. Satu lagu usai dinyanyikan dan smsku pun tetap tanpa balasan. Keringat dan peluh mulai mengucur dari kening dan kuyakini itu keluar karena kuatnya aku menahan emosi. Yah, emosi ini mulai menyeruak muncul ke permukaan hatiku. Pikiran-pikiran negatif tentang temanku pun mulai mengiringi kemunculan emosi. “Pasti sengaja nggak dibales,” pikirku. Tak hanya sampai batas itu, prasangka buruk lain pun ikut memanaskan hati. “Jangan-jangan dia masih enak-enakan tidur. Dasar nggak pengertian.” Kira-kira seperti itulah ungkapan pikiranku saat ini.

GIMANA, JADI PERGI NGGAK?, mengalah aku mencoba mengirim pesan lagi untuknya.

Sms terakhir pun tak dibalasnya. Namun, aku masih bertahan hingga satu jam lebih aku masih menunggu sms balasan darinya. Aku ingin sekali membuktikan bahwa prasangka-prasangkaku padanya memang benar bahwa dia sengaja membuatku menunggu lama seperti ini. Sepi tanpa balas. “Yasudah kalau kamu memang maunya seperti itu,” simpulku di tengah emosi. “Mulai saat ini, aku nggak akan pernah mengirim sms lagi untuknya,” aku pun memutuskan.

Satu hari kejadian itu telah lewat. Namun, setiap kali aku mengingatnya, emosi pun masih bersisa terhadapnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan aku pun sudah bersiap untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah ini. Tiba-tiba dering pesan dari handphoneku berbunyi cukup mengagetkan. Tak kusangka dan mungkin tak kuharapkan, sms yang akan kubaca itu dikirimkan oleh Rena. Sms yang sedari tadi pagi aku tunggu dan sangat kunantikan akhirnya muncul juga. Dengan perasaan campur aduk, emosi setengah penasaran, aku mulai membaca pesan itu.

Q MINTA MAAF BGT FA BARU BS BLS SMS KAMU.

Sedikit gugup ketika aku mulai membaca pesan pembuka darinya.

SEJAK TADI PAGI, IBUQ MSK R.S DAN Q HRS MENEMANINYA YG SMP SKRNG MSH DI R.S. HPQ NGGAK ADA PULSA, BARU MALAM INI Q BS MENGISINYA DAN BLS SMS KAMU. TLG, JGN MARAH YA.... AKU MINTA MAAF.

Tubuhku langsung lemas membaca pesan itu. Pesan dari temanku yang aku yakin, tak mungkin ia berbohong kepadaku. Sudah begitu jahat aku menuduhnya dengan prasangka-prasangka tanpa alasan yang menyudutkannya. Kupenuhi pikiranku dengan bisikan-bisikan setan yang membawaku kepada kebencian. Aku sungguh malu pada diriku yang dengan bodoh telah melakukan kesalahan besar itu kepada temanku sendiri. Kesalahan yang seharusnya tidak aku lakukan.Dengan penuh rasa sesal atas semua salah, aku membalas smsnya dengan permintaan maaf. Aku pun berjanji kepada diriku, takkan pernah lagi aku berburuk sangka terhadap orang lain.

Senin, 02 Mei 2011

Saudaraku Oh Saudaraku....

Kawan, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan sedikit unek-unek saya, yang insya Allah dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

“Kamu tu dibilangin kok susah banget. Kalo aku lagi ngomong didengerin,” bentak seorang kakak kepada adiknya.

Saya yakin, hal seperti itu bukanlah suatu perbuatan yang asing bagi kita. Bahkan, mungkin sebagian dari kita pun pernah melakukan hal serupa itu. Yep, bertengkar dengan saudara kita sendiri, entah itu kakak ataupun adik. Sudah menjadi hal yang biasa bagi kita jika terjadi pertengkaran antara saudara. Alasannya pun macam-macam. Mulai dari berselisih paham, beda pendapat, hingga merebutkan suatu hal yang ringan sekalipun. Anehnya, yang mungkin jarang kita pikirkan adalah mengapa keributan dengan saudara kita sendiri jauh lebih sering kita alami daripada bertengkar ataupun ribut dengan teman. Kita senantiasa berjuang keras agar pertemanan kita selalu berjalan dengan baik, menjaga agar tak ada emosi yang meletup dari setiap teman. Lantas bagaimana dengan saudara kita? Persaudaraan yang seharusnya memancarkan perdamaian dan kenyamanan, seringkali kita korbankan demi pertemanan itu sendiri. “Males ah di rumah, mending keluar sama temen-temen,” mungkin itulah kata yang akan keluar dari mulut kita jika diperintah orang tua untuk menjaga rumah dan adik-adik kita. Tak ingatkah kita berapa lama waktu yang kita berikan untuk keluarga, terutama saudara-saudara kita. Sekolah dari pagi sampai siang, pulang hanya sebentar dan langsung berangkat untuk les hingga sore. Belum lagi jalan-jalan sama teman, pulang ke rumah hingga malam hari. Tak ada waktu sedikitpun untuk mereka. Bahkan untuk menanyakan kabarnya hari itu. Sekalinya ngobrol, belum ada satu menit langsung ribut. Yah begitulah hidup dengan segala rutinitas yang mungkin akan mengubah kita menjadi sosok manusia yang kejam dan tak punya perasaan.

Sangat bodoh jika kita tidak memanfaatkan kesempatan dan nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan untuk kita. Allah mengirimkan saudara bagi kita untuk bisa saling berbagi, saling menyayangi dan mengasihi. Mungkin untuk saat ini kita tidak akan terlalu memikirkan hal itu. Belum muncul dalam benak kita untuk menyadari keberadaan dan peran seorang kakak ataupun adik untuk kita. Mungkin keberadaannya bisa saja kita gantikan dengan siapapun teman kita. Namun, akan lain lagi apabila masa itu tiba. Ketika suatu saat Allah menjatuhkan putusannya untuk mengambil saudara-saudara kita satu per satu. Ya, kematian. Kematian yang akan merenggut keberadaannya di dunia ini, yang akan menyingkirkan peran-perannya sebagai saudara kita. Kematian itu akan indah apabila kedamaian dan kasih sayang mengiringi kepergiannya. Namun, bagaimana apabila ia meninggal sebelum kita sempat meminta maaf kepadanya, sebelum kita menjabat erat tangannya, sebelum kita memeluk tubuhnya yang hangat, dan mengecup pipinya dengan lembut, dan hanya sejuta keributan dan masalah yang kita bebankan kepadanya. Penyesalan pun menggunung dan takkan berarti sedikitpun ketika kita hanya bisa menyaksikan tubuhnya tak berdaya terbalut kain kafan dan hanya bisa mengecup keningnya yang dingin, memeluk tubuhnya yang tak hangat lagi melainkan beku, menatap wajahnya yang penuh dengan gurat kesedihan. Kata maaf dan sayang yang kita keluarkan pun takkan terbalas apapun dari mulutnya yang sudah kaku. “Ya Allah, ampunilah hambaMu yang jahat dan kejam ini. Karena semua kesombonganku, saudarakulah yang menjadi korban. Tak seharusnya ia menderita dan menanggung semua beban itu. Limpahan sayanglah yang seharusnya ia terima dariku. Bodohnya aku telah menyia-nyiakan semua karuniaMu ya Allah.”

Saya tahu, tak ada seorang pun yang menginginkan penyesalan sedalam itu. Penyesalan itu tak boleh menghampiri kita sejengkal pun. Karena saya yakin, setelah merenung dan menyadari segala kekurangan dan kesalahan yang pernah kita lakukan, kita akan menjadi seorang manusia yang lebih baik dan menjadi seorang manusia yang bijak dan penuh kasih sayang, tidak hanya untuk semua teman dan sahabat, tetapi juga keluarga, termasuk saudara-saudara kita. Amin.

Selama Allah masih memberikan kesempatan untuk kita, marilah senantiasa berjuang untuk menebar benih kebaikan dan kasih sayang untuk semua umat manusia, tak terkecuali untuk saudara-saudara kita. Semoga Allah selalu melimpahkan ridhoNya bagi kita semua.