Suatu pekerjaan yang aku yakin tak satupun orang menyukainya. Yep menunggu. Menunggu waktu, menunggu kedatangan seorang teman, entah apapun itu, pasti membuat hati setiap orang kesal. Saat inilah, aku harus melalui perasaan itu. Hari ini, pada jam ini, Rena, temanku sudah janji untuk datang ke sebuah acara bersamaku.
SUDAH SIAP BELUM?, tulisku dalam layar pesan singkat dan mengirimnya ke nomor temanku.
Perasaan sebel dan bongko perlahan membuncah dan berkecamuk dalam dada ketika lama aku menunggu balasan sms darinya. Detik demi detik dan menit demi menit pun berlalu. Tak ada bunyi dering apapun yang keluar dari handphoneku. Hanya irama lagu yang berasal dari radio yang tetap menemaniku dalam penantianku. Satu lagu usai dinyanyikan dan smsku pun tetap tanpa balasan. Keringat dan peluh mulai mengucur dari kening dan kuyakini itu keluar karena kuatnya aku menahan emosi. Yah, emosi ini mulai menyeruak muncul ke permukaan hatiku. Pikiran-pikiran negatif tentang temanku pun mulai mengiringi kemunculan emosi. “Pasti sengaja nggak dibales,” pikirku. Tak hanya sampai batas itu, prasangka buruk lain pun ikut memanaskan hati. “Jangan-jangan dia masih enak-enakan tidur. Dasar nggak pengertian.” Kira-kira seperti itulah ungkapan pikiranku saat ini.
GIMANA, JADI PERGI NGGAK?, mengalah aku mencoba mengirim pesan lagi untuknya.
Sms terakhir pun tak dibalasnya. Namun, aku masih bertahan hingga satu jam lebih aku masih menunggu sms balasan darinya. Aku ingin sekali membuktikan bahwa prasangka-prasangkaku padanya memang benar bahwa dia sengaja membuatku menunggu lama seperti ini. Sepi tanpa balas. “Yasudah kalau kamu memang maunya seperti itu,” simpulku di tengah emosi. “Mulai saat ini, aku nggak akan pernah mengirim sms lagi untuknya,” aku pun memutuskan.
Satu hari kejadian itu telah lewat. Namun, setiap kali aku mengingatnya, emosi pun masih bersisa terhadapnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan aku pun sudah bersiap untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah ini. Tiba-tiba dering pesan dari handphoneku berbunyi cukup mengagetkan. Tak kusangka dan mungkin tak kuharapkan, sms yang akan kubaca itu dikirimkan oleh Rena. Sms yang sedari tadi pagi aku tunggu dan sangat kunantikan akhirnya muncul juga. Dengan perasaan campur aduk, emosi setengah penasaran, aku mulai membaca pesan itu.
Q MINTA MAAF BGT FA BARU BS BLS SMS KAMU.
Sedikit gugup ketika aku mulai membaca pesan pembuka darinya.
SEJAK TADI PAGI, IBUQ MSK R.S DAN Q HRS MENEMANINYA YG SMP SKRNG MSH DI R.S. HPQ NGGAK ADA PULSA, BARU MALAM INI Q BS MENGISINYA DAN BLS SMS KAMU. TLG, JGN MARAH YA.... AKU MINTA MAAF.
Tubuhku langsung lemas membaca pesan itu. Pesan dari temanku yang aku yakin, tak mungkin ia berbohong kepadaku. Sudah begitu jahat aku menuduhnya dengan prasangka-prasangka tanpa alasan yang menyudutkannya. Kupenuhi pikiranku dengan bisikan-bisikan setan yang membawaku kepada kebencian. Aku sungguh malu pada diriku yang dengan bodoh telah melakukan kesalahan besar itu kepada temanku sendiri. Kesalahan yang seharusnya tidak aku lakukan.Dengan penuh rasa sesal atas semua salah, aku membalas smsnya dengan permintaan maaf. Aku pun berjanji kepada diriku, takkan pernah lagi aku berburuk sangka terhadap orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar