Sabtu, 11 Februari 2012

Jeritan Hati


Kala sesuatu  merasa
Menggelitik naluri, menggoda hati
Entah apa, tak kuasa kumengerti

Rangkaian kata kualunkan dengan nada menjadi lagu
Melukiskan indahnya rasa yang kupendam

Tanyaku pada siapa tentang rasa yang datang
Ucapnya, itu bukan rasa yang  punya nama cinta
Cinta tak beralasan,
Namun rasaku padamu punya beribu alasan
Matamu teduh mengisyaratkan banyak makna,
Bibirmu tenang menguatkan banyak isyarat di matamu,
Caramu berjalan sungguh tak pernah kubayangkan,
Caramu berpikir menyuguhkan banyak takjub untukku
Tidakkah semua mengisyaratkan cintaku padamu
Aku yakin, aku percaya
Aku cinta padamu wahai kasih
Tak tahukah engkau akan rasaku yang sungguh dalam?
Sungguh, harapku kan kugantung di depanmu
Takkan ada bosan yang terucap bahwa cintaku memang padamu

Galih....


Mendungnya awan di langit biru itu tak sedikitpun memengaruhi hati Galih yang cerah saat ini. Aku sungguh mengerti perasaannya, terlihat jelas dari senyumnya di tengah lamunan, memudahkanku memahami gambaran hatinya saat ini. Namun, tiba-tiba saja rintik-rintik air hujan turun membasahi bumi dan seketika membuyarkan lamunan Galih. Melihat hal itu, aku pun tersenyum geli dan segera menutup tirai jendela yang sedari tadi kugunakan untuk mengintip Galih.

Namaku Yuliana Dewi. Seluruh temanku biasa menyingkatnya dengan Yuli. Aku tinggal dalam suatu perumahan di Jakarta. Perumahan itulah yang secara kebetulan juga dijadikan tempat tinggal oleh Galih dan keluarganya. Ya, Galih adalah tetanggaku, tetangga terdekatku. Rumahnya tak lebih dari tiga meter terpisah dengan rumahku. Galih bukanlah sekadar tetangga bagiku. Bahkan, keluarganya pun sudah keuanggap sebagai keluargaku sendiri.

Galih adalah pria yang sangat baik. Sebagai seorang anak tunggal, aku senang memiliki teman seperti Galih yang mau dan selalu bersedia menjadi kakakku. Dia memang lebih tua dariku. Namun, aku sangat nyaman berada di dekatnya, dirangkul olehnya layaknya kepada adik kesayangannya. Galih adalah segalanya untukku sehingga takkan pernah kurelakan siapapun menyakitinya.

Dering telepon kamarku sontak mengagetkanku, melepas segala bayang tentang Galih.
“Halo,” terdengar suara yang tak mungkin asing bagiku di seberang sana. Bahagia dan senang seperti biasa ketika aku mendengar suaranya, memandang wajahnya, bahkan hanya ketika menghirup aroma tubuhnya. “Nanti sore temenin gue nyari sesuatu yuk”, lanjut suara dari telepon itu. Tak lain dan tak bukan dialah Galih. Seperti biasa waktuku pun selalu rela jika harus kuhabiskan dengannya.

Sudah bertahun-tahun lamanya keluargaku mengenal keluarganya, begitu juga denganku terhadapnya. Hari-hariku 80% bersamanya dan ceritaku tak ada yang kulewatkan untuk kusampaikan padanya.Hingga sudah tak aneh lagi mengetahui segala kekurangannya dan tak takjub lagi aku mengerti kelebihannya. Yang hanya kuingin dan kutahu, aku selalu nyaman berada di dekatnya, aku merasa terlindungi berada di sampingnya, dan aku ingin selalu bersamanya.

Suatu siang, aku sedang duduk santai di dalam rumah, di dekat suatu jendela seperti biasa agar aku bisa melihat langsung kea rah rumah Galih. Entah mengapa aku senang melakukan kebiasaan itu. Namun tiba-tiba saja terlihat sebuah mobil keluar dari dalam rumahnya. Aku yakin, pastilah itu bukan Galih karena Galih akan selalu memberitahuku jika ia ingin pergi kemanapun. Beralih dari memandang rumah Galih, kulanjutkan aktivitas membacaku.

Karena merasa bosan, kuputuskan untuk main ke rumah Galih dan mengobrol bersamanya untuk membunuh waktu-waktu yang kosong tanpa kegiatan. Sesampai di rumah Galih, kosong tak tampak siapapun menghuni rumah itu. Kucoba buka pintunya berulang kali, tapi tetap saja tidak menghasilkan. “Yasudahlah nanti saja gue kesini lagi”, pikirku.
Waktu berganti kuulangi pergi ke rumahnya, tapi tak ada perubahan, nihil. Rumahnya tetap saja kosong seperti waktu tadi. Yang membuatku heran, bahkan pembantunya juga tak tampak di rumah itu. Rumah itu benar-benar kosong dan sepi. Mungkin saja mereka ke luar kota, tapi mengapa Galih tak memberikan kabar apapun untukku? Sempat kurasakan kecewa ketika memikirkan hal itu.
Tak ada yang tahu tentang kepergian Galih dan keluarganya. Hari berganti, selalu kucoba tuk pergi ke rumahnya dan berharap keadaan akan kembali seperti semula dengan keberadaan Galih dan keluarganya. Namun rumah itu tetap dalam keheningannya tanpa penghuni. “Astaga, kemana perginya mereka?” aku putus asa.

Ternyata keadaan itu berlangsung tak singkat. Hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan hampir satu tahun tak ada kabar dari Galih dan keluarganya. Keluargaku dan tetangga sekitar pun tak ada yang tahu tentang hal itu. Sudah beribu kali kucoba menelepon semua nomor yang kutahu akan terhubung dengannya, tapi tak ada yang bisa. Rasa rinduku begitu dalam untuk Galih. Aku rindu menghabiskan setiap waktuku bersamanya, aku rindu mendengarkan segala ceritanya, aku rindu sembunyi-sembunyi memperhatikannya, dan aku rindu semua tentangnya. Pernah suatu ketika terlintas di pikirku bahwa aku mencintai Galih. Ya, tak salah lagi bahwa aku benar-benar mencintainya. Inginku memilikinya tak hanya sebatas sebagai kakak, inginku hanya dia untukku, tidak untuk orang lain. Aku memang mencintai Galih, aku terlambat mengerti perasaanku ini terhadapnya dan sekarang aku menderita dalam sebuah ruang kerinduan yang kosong akan kehadiran dan keberadaannya.

Tiba-tiba saja aku mendengar kabar bahwa Galih dan keluarganya sudah kembali dari pergi panjangnya. Dengan sedikit keraguan, aku berusaha membuat kakiku berlari kencang menuju rumah Galih. Bahagia bukan kepalang berita itu benar dan aku melihat sesosok laki-laki itu di depanku. Tanpa berpikir panjang aku memeluk erat tubuh seseorang di hadapanku, Galih. Namun tiba-tiba saja ibu Galih dengan ramah menyuruhku melepaskan pelukan itu dan langsung menggandeng Galih masuk ke dalam rumahnya.
Ada yang tak biasa dengan sikap semua orang dan baru kusadari Galih pun tak bersikap layaknya seperti biasa. Ia hanya diam dengan wajah pucatnya dan tubuh kurusnya. Dia tampak begitu lemas dan kurasa sekarang ini dia sedang sakit. Lantas kemana perginya mereka selama ini? Tuhan, aku takut. Aku ingin keadaan ini kembali seperti sediakala.

Selidik demi selidik, kudapatkan ternyata Galih memang sedang sakit. Kepergiannya selama ini adalah untuk memberikan pengobatan untuk penyakitnya itu. Namun rupanya usaha itu tak menghasilkan apapun untuk Galih, bahkan penyakitnya kini kian menggerogoti tubuhnya. Aku tak tahu pasti sebenarnya penyakit apa yang sedang bersarang di tubuh Galih itu. Setiap hari selalu kucoba luangkan waktu untuk menjenguk Galih tapi rupanya ibunya tak mengizinkanku untuk menemui Galih. Sudah bersikeras kutunjukkan niatku untuk menemui Galih, tapi ternyata memang tak ada celah untukku. “Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi pada Galih?”, keluhku pada-Nya.

Di suatu siang bolong, kudengar kabar yang paling menyedihkan, paling menyakitkan, dan paling mengejutkan di sepanjang hidupku. Galih telah tiada dan pergi dari dunia ini untuk selamanya. Tak sadar rasanya aku menjerit pilu mendengar kabar itu. Dengan tak percaya, kuberlari menuju rumah Galih untuk membuktikan ketidakbenaran berita itu. Sesampainya di sana, terlihat sesosok tubuh yang terbaring diam di ruang tengah, terbujur kaku, dan terlihat pucat kulitnya. Dengan setengah kosong aku menatapnya. Aku pun mendekat ke tubuh itu dan langsung memeluk erat tubuhnya dengan tangisan yang tak dapat keluar dari mulutku. Aku tak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarku. Yang kuinginkan saat ini hanyalah memeluknya erat dan menenggelamkan tubuhku bersamanya. Terbayang segala kenangan yang kulalui bersamanya selama ini, terbayang segala kesediaannya menemaniku selama ini. Ingin kuteriakkan saat itu juga, “TUHAAAN JANGAN KAU AMBIL GALIH DARIKU”. Belum puas rasanya aku menjalani hari-hariku bersamanya. Tak pernah sekilas pun terpikirkan olehku bahwa suatu saat aku harus berpisah dan harus hidup sendiri tanpanya di sisiku. Ingin sekali kembali kuulang waktu-waktuku saat bersamanya. Belum sempat kusampaikan perasaan yang terlambat kusadari ini, bahwa sebenarnya aku mencintainya. “Ya Tuhan, tolong putarlah waktu agar dia tahu sebenarnya aku mencintainya Tuhan”.


Hari-hari tanpanya di dunia ini, begitu sulit rasanya meyakini bahwa sosoknya sudah tiada. Sekarang dia sudah berada di tempat yang nyaman karena terbebas dari rasa sakitnya. “Ah mungkin memang sudah seharusnya aku mengikhlaskan Galih pergi”, pikirku mencoba tegar.
“Yuli, ada yang ingin menemuimu sayang”, suara mama mengagetkan dan membuyarkan lamunanku. Muncul sesosok wanita yang sudah sangat kukenal dan sayang, dialah ibu Galih. Aku sempat kaget melihat beliau tiba-tiba ingin menemui dan berbicara denganku.
“Yuli, sebenarnya tante kesini ingin menyampaikan amanah dari Galih”, ibu Galih memulai pembicaraan itu. Mendengarnya jantungku tiba-tiba berdegup kencang.
“Amanah apa ya tante?”, jawabku terdengar penasaran.
Tanpa berbelit-belit, beliau pun menyampaikan amanah yang dimaksudnya.
“Sebenarnya selama ini Galih mencintai kamu Yuli”.

Kurasakan hening dan hampa secara tiba-tiba, kosong.

Semester2

Bukan bermaksud apapun, hanya mencoba untuk bertekad dan berdoa..

Amiiin ya Allaaaah....... :)

Jumat, 10 Februari 2012

Gema Inspirasi "ITB FAIR"

Pagi ini, kucoba torehkan di atas putih, momentum yang sempat terekam dalam otak ini.
Sabtu itu, 04 Februari 2012 di Sasana Budaya Ganesha ITB.
Tertulis Gema Inspirasi pada tiket yang telah kubayar dengan 35 ribu. Ya, acara itu memang bernama Gema Inspirasi. Terlihat jelas dari namanya, sudah pasti tujuanku mengikuti acara tersebut adalah harapan mendapatkan beribu gaungan inspirasi yang akan menjadi penggerak atau motorku untuk melangkah maju.
Banyak tokoh inspiratif yang hadir dalam acara talkshow itu, mulai dari Menteri Komunikasi dan Informasi RI, Bpk Tiffatul Sembiring, hingga penulis remaja kondang yang sudah pasti tak ada pemuda yang tak mengenalnya, dialah Raditya Dika.
Acara talkshow Gema Inspirasi ini merupakan salah satu rangkaian acara ITB Fair yang sudah pasti diadakan oleh mahasiswa-mahasiswa ITB. Dengan tema "Cipta Karya, Cinta Indonesia" diharapkan setelah diadakannya acara talkshow tersebut, bisa menggugah hati insan pemuda bangsa untuk mau dan berani berkarya untuk menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.
Dalam talkshow ini diangkat topik enterpreneurship. Ya, tak salah lagi enterpreneurship. Seyogyanya kita sebagai muda mudi bangsa ini dituntut untuk bisa menjadi seorang enterpreneur. Saya pun pernah mendengar bahwa bangsa yang besar, dialah bangsa yang mampu menjual, bukan bangsa pembeli yang kebanyakan warganya memiliki sifat konsumtif. Intinya sebagai generasi muda yang pasti nantinya akan menjadi seorang penerus dan penanggung kemajuan bangsa janganlah mau menjadi pesuruh atau orang yang selalu disuruh-suruh untuk diperintah melakukan ini dan itu.
Sebelum lebih jauh, dalam acara gema inspirasi ini kita diperkenalkan pada tiga jenis bentuk enterpreneurship, yaitu:
1. Technopreneur
Apa sih sebenernya technopreneur itu?
Nah, gampangnya, techno mempunyai maksud teknologi. Kalau dijadikan satu dengan preneur, akhirnya kata tersebut mempunyai maksud suatu usaha atau bisnis yang lebih menonjolkan dalam bidang teknologi. Di sini saya tidak akan mengungkapkan panjang lebar mengenai isi dari technopreneur dan bla bla nya, tapi saya hanya akan sedikit share tentang apa saja hal2 inti yang disampaikan oleh pakar2 technopreneur di dalamnya.
Dalam sesi ini ITB Fair mengundang beberapa pakar yang memang expert dalam bidang ini, beliau-beliau itu adalah ibu Martha Tilaar (siapa sih yg nggak kenal), Bpk Nurul Taufiqur Rohman (ahli metalurgi yg juga seorang enterpreneur kancah internasional), Kak Nadia Saib (alumni farmasi ITB yang berkutat dengan usaha sukses sabunnya).
Dari ketiga pembicara, dapat ditarik sebuah garis bahwa sebenarnya untuk terjun ke dalam suatu bidang yang ingin kita jalani, maka pilihlah sesuai apa yang kita sukai. Dengan kita mengerti dan mencintai apa yang akan kita kerjakan, hati pun akan ikhlas menjalaninya dan seberat serta sesulit apapun rintangan yang menghadang, maka akan mudah kita lalui. Namun ternyata, hanya bermodal suka dan cinta saja tidak cukup. Nampaknya mulai sejak dini kita harus terus berusaha untuk memperluas jaringan ataupun koneksi. Karena dengan networking, kita akan mudah dalam menyebarluaskan bisnis atau usaha apapun yang nantinya akan kita kelola. Selain itu, banyak bantuan pun yang takkan segan mengalir dari tiap relasi kita. Indahnya memang silaturrahmi itu.:)
2. Sociopreneur
Sesi kedua acara ini yaitu talkshow mengenai sociopreneur. Tak perlu dijelaskan lebih lanjut ya nampaknya apa itu sociopreneur, yang jelas usaha atau bisnisnya pasti berhubungan dengan bidang sosial. Adapula yang mengatakan kalau sociopreneur itu adalah socio develop yang mengangkat solusi enterpreneurship.
Nah, langsung saja beberapa tokohnya yaitu Bpk Bambang Ismawan (founder majalah TRUBUS), Bpk Teo Suprapto (saya menyebutnya pahlawan para petani), dan Habibie Afsyah (seorang remaja yang memang memiliki kekurangan secara fisik, tapi dia luar biasa dalam bidangnya sebagai seorang sociopreneur).
Dalam sesi ini yang menjadi fokus perhatian saya adalah jujur hanya pada Bpk. Teo saja. Namun, bukan berarti tokoh yang lain pada sesi ini kurang menarik, hanya saja gagasan-gagasan yang disampaikan oleh Bpk. Teo sungguh luar biasa menurut saya.
Awalnya beliau menyebarkan virus GILA kepada kami-kami para peserta talkshow. Eits tapi jangan terburu-buru. GILA disini menurut beliau adalah Gerakan Insan Lestarikan Alam. Luar biasa bukan sepenggal kalimat itu? Nah, beliau mengajak kita, generasi muda khususnya untuk mau peduli dengan lingkungan alam. Jangan mau kita diperbudak oleh apapun itu, sebut saja era teknologi untuk akhirnya mengabaikan alam. Seorang manusia yang berbuat hina kepada Tuhannya maka ia akan dikatakan pendosa. Seorang anak yang durhaka kepada ibu atau orang tuanya maka ia akan disebut pendosa. Lalu, kita sebut apa seorang manusia yang berbuat merusak kepada ibu pertiwinya, alam bumi, yang nanti akan mengandungnya? Luar biasa sekali paparan beliau mengenai hal tersebut. Beliau menyerukan bahwa takkan ada guna ataupun hasil jika dorongan dalam hati tidak ditindaklanjuti dengan perubahan sikap. Beliau pun meyakinkan kita akan 6 (enam) hal, yaitu IMPIAN. Sudah jelas sekali, untuk menjadi seorang manusia sukses haruslah kita mempunyai hal itu. IMAN. Mengimani Tuhan dan mimpi yang akan direalisasikan Tuhan adalah next key for success. IKHTIAR. Tindakan nyata yang hanya bukan sekadar omong belaka. IBADAH. Berdoa untuk perwujudan mimpi kita kepada Tuhan. IKHLAS. Tak ada pamrih ketika kita melakukan setiap pekerjaan, ikhlas hanya untuk mendapat ridho-Nya. Yang menjadi penutup kebahagiaan adalah IJABAH. Insya Allah impian, iman, ikhtiar, ibadah, serta ikhlas akan ditampakkan indahnya oleh Allah, yakni dengan ijabah. :)
3. Creativepreneur
Bisa dibilang sesi inilah yang paling ditunggu oleh peserta talkshow siang itu.
Diawali dengan penampilan stand up comedy Ernest yang sukses membuat gedung Sabuga bergetar (haha lebay) karena heboh tertawa dari peserta. Dilanjut dengan kemunculan tokoh-tokoh asik yang tetap dengan jiwa inspiratifnya. Ernest, Raditya Dika (novelist muda), Sujiwo Tedjo (seorang seniman dan budayawan yang nyentrik), Ridwan Kamil (arsitek muda profesional sekaligus dosen di ITB), dan Bachtiar Rahman (eksekutif produser film Laskar Pelangi) mengisi kursi-kursi yang berada di panggung depan.
Ernest dan Raditya Dika yang menjadi ikon pemuda kreatif dalam acara itu membeberkan setiap cerita tentang perjalanannya hingga menuju kesuksesan seperti sekarang ini. Banyak suka, lebih banyak lagi tentang kisah dukanya. (hehe) Kata yang pasti untuk mereka adalah inspiratif. Raditya Dika dengan passion menulisnya tak pantang menyerah dan terus berusaha untuk menunjukkan kepada dunia (alay (lagi)) bahwa ia mampu melakukan itu hingga menghasilkan sesuatu seperti sekarang ini. Contoh generasi muda yang mampu, tapi lebih tepatnya mau untuk berkarya dan bukan malah menjadi beban tanggungan bangsanya, dialah pemuda inspiratif itu.
Sujiwo Tedjo dengan misi keawetan dan kelestarian budayanya begitu menggebu-gebu dan bersemangat mengisi talkshow siang itu. Alumni ITB jurusan Teknik Sipil dan Matematika yang sekarang menjadi dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (gak nyambung) itu selalu menekankan bahwa sudah sepantasnya generasi muda melestarikan warisan nenek moyang yakni budaya. Tambahan pesannya kepada para peserta bahwa kita harus memiliki modal nekat untuk bermimpi. Ia buktikan dengan dirinya sendiri bahwa ia beralih dari seorang sarjana teknik sipil menjadi seorang seniman. Luar biasa nekat. Haha. :D
Yang tetap terkenang dari pesan seorang Bachtiar Rahman adalah dalam melakukan segala apapun, just follow your heart. It's so simple. ;)
Nah kalau dari arsitek muda yang satu ini, Ridwan Kamil, menurutnya ada tiga kunci yang bisa mengantarkan seseorang ke arah kesuksesan, TALENT. Setiap orang pasti memiliki talent masing2 yang telah diberikan oleh Tuhan. TOLERANT. dan TECHNOLOGY.
Begitulah papar Ridwan Kamil, dan the last, satu kalimat darinya,
Siapa yang berinovasi, dialah yang memimpin.
-------------------------------------------------------------------
Berakhirlah sudah acara luar biasa itu. Semoga kata-kata yang sudah disampaikan oleh tokoh2 inspiratif itu dapat memberikan dorongan dan menjadi penggerak untuk menuju kesuksesan, tidak hanya untuk sekarang, tapi untuk saat-saat nanti dan di saat kita melangkah.
prok prok prok prok