Sabtu, 11 Februari 2012

Galih....


Mendungnya awan di langit biru itu tak sedikitpun memengaruhi hati Galih yang cerah saat ini. Aku sungguh mengerti perasaannya, terlihat jelas dari senyumnya di tengah lamunan, memudahkanku memahami gambaran hatinya saat ini. Namun, tiba-tiba saja rintik-rintik air hujan turun membasahi bumi dan seketika membuyarkan lamunan Galih. Melihat hal itu, aku pun tersenyum geli dan segera menutup tirai jendela yang sedari tadi kugunakan untuk mengintip Galih.

Namaku Yuliana Dewi. Seluruh temanku biasa menyingkatnya dengan Yuli. Aku tinggal dalam suatu perumahan di Jakarta. Perumahan itulah yang secara kebetulan juga dijadikan tempat tinggal oleh Galih dan keluarganya. Ya, Galih adalah tetanggaku, tetangga terdekatku. Rumahnya tak lebih dari tiga meter terpisah dengan rumahku. Galih bukanlah sekadar tetangga bagiku. Bahkan, keluarganya pun sudah keuanggap sebagai keluargaku sendiri.

Galih adalah pria yang sangat baik. Sebagai seorang anak tunggal, aku senang memiliki teman seperti Galih yang mau dan selalu bersedia menjadi kakakku. Dia memang lebih tua dariku. Namun, aku sangat nyaman berada di dekatnya, dirangkul olehnya layaknya kepada adik kesayangannya. Galih adalah segalanya untukku sehingga takkan pernah kurelakan siapapun menyakitinya.

Dering telepon kamarku sontak mengagetkanku, melepas segala bayang tentang Galih.
“Halo,” terdengar suara yang tak mungkin asing bagiku di seberang sana. Bahagia dan senang seperti biasa ketika aku mendengar suaranya, memandang wajahnya, bahkan hanya ketika menghirup aroma tubuhnya. “Nanti sore temenin gue nyari sesuatu yuk”, lanjut suara dari telepon itu. Tak lain dan tak bukan dialah Galih. Seperti biasa waktuku pun selalu rela jika harus kuhabiskan dengannya.

Sudah bertahun-tahun lamanya keluargaku mengenal keluarganya, begitu juga denganku terhadapnya. Hari-hariku 80% bersamanya dan ceritaku tak ada yang kulewatkan untuk kusampaikan padanya.Hingga sudah tak aneh lagi mengetahui segala kekurangannya dan tak takjub lagi aku mengerti kelebihannya. Yang hanya kuingin dan kutahu, aku selalu nyaman berada di dekatnya, aku merasa terlindungi berada di sampingnya, dan aku ingin selalu bersamanya.

Suatu siang, aku sedang duduk santai di dalam rumah, di dekat suatu jendela seperti biasa agar aku bisa melihat langsung kea rah rumah Galih. Entah mengapa aku senang melakukan kebiasaan itu. Namun tiba-tiba saja terlihat sebuah mobil keluar dari dalam rumahnya. Aku yakin, pastilah itu bukan Galih karena Galih akan selalu memberitahuku jika ia ingin pergi kemanapun. Beralih dari memandang rumah Galih, kulanjutkan aktivitas membacaku.

Karena merasa bosan, kuputuskan untuk main ke rumah Galih dan mengobrol bersamanya untuk membunuh waktu-waktu yang kosong tanpa kegiatan. Sesampai di rumah Galih, kosong tak tampak siapapun menghuni rumah itu. Kucoba buka pintunya berulang kali, tapi tetap saja tidak menghasilkan. “Yasudahlah nanti saja gue kesini lagi”, pikirku.
Waktu berganti kuulangi pergi ke rumahnya, tapi tak ada perubahan, nihil. Rumahnya tetap saja kosong seperti waktu tadi. Yang membuatku heran, bahkan pembantunya juga tak tampak di rumah itu. Rumah itu benar-benar kosong dan sepi. Mungkin saja mereka ke luar kota, tapi mengapa Galih tak memberikan kabar apapun untukku? Sempat kurasakan kecewa ketika memikirkan hal itu.
Tak ada yang tahu tentang kepergian Galih dan keluarganya. Hari berganti, selalu kucoba tuk pergi ke rumahnya dan berharap keadaan akan kembali seperti semula dengan keberadaan Galih dan keluarganya. Namun rumah itu tetap dalam keheningannya tanpa penghuni. “Astaga, kemana perginya mereka?” aku putus asa.

Ternyata keadaan itu berlangsung tak singkat. Hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan hampir satu tahun tak ada kabar dari Galih dan keluarganya. Keluargaku dan tetangga sekitar pun tak ada yang tahu tentang hal itu. Sudah beribu kali kucoba menelepon semua nomor yang kutahu akan terhubung dengannya, tapi tak ada yang bisa. Rasa rinduku begitu dalam untuk Galih. Aku rindu menghabiskan setiap waktuku bersamanya, aku rindu mendengarkan segala ceritanya, aku rindu sembunyi-sembunyi memperhatikannya, dan aku rindu semua tentangnya. Pernah suatu ketika terlintas di pikirku bahwa aku mencintai Galih. Ya, tak salah lagi bahwa aku benar-benar mencintainya. Inginku memilikinya tak hanya sebatas sebagai kakak, inginku hanya dia untukku, tidak untuk orang lain. Aku memang mencintai Galih, aku terlambat mengerti perasaanku ini terhadapnya dan sekarang aku menderita dalam sebuah ruang kerinduan yang kosong akan kehadiran dan keberadaannya.

Tiba-tiba saja aku mendengar kabar bahwa Galih dan keluarganya sudah kembali dari pergi panjangnya. Dengan sedikit keraguan, aku berusaha membuat kakiku berlari kencang menuju rumah Galih. Bahagia bukan kepalang berita itu benar dan aku melihat sesosok laki-laki itu di depanku. Tanpa berpikir panjang aku memeluk erat tubuh seseorang di hadapanku, Galih. Namun tiba-tiba saja ibu Galih dengan ramah menyuruhku melepaskan pelukan itu dan langsung menggandeng Galih masuk ke dalam rumahnya.
Ada yang tak biasa dengan sikap semua orang dan baru kusadari Galih pun tak bersikap layaknya seperti biasa. Ia hanya diam dengan wajah pucatnya dan tubuh kurusnya. Dia tampak begitu lemas dan kurasa sekarang ini dia sedang sakit. Lantas kemana perginya mereka selama ini? Tuhan, aku takut. Aku ingin keadaan ini kembali seperti sediakala.

Selidik demi selidik, kudapatkan ternyata Galih memang sedang sakit. Kepergiannya selama ini adalah untuk memberikan pengobatan untuk penyakitnya itu. Namun rupanya usaha itu tak menghasilkan apapun untuk Galih, bahkan penyakitnya kini kian menggerogoti tubuhnya. Aku tak tahu pasti sebenarnya penyakit apa yang sedang bersarang di tubuh Galih itu. Setiap hari selalu kucoba luangkan waktu untuk menjenguk Galih tapi rupanya ibunya tak mengizinkanku untuk menemui Galih. Sudah bersikeras kutunjukkan niatku untuk menemui Galih, tapi ternyata memang tak ada celah untukku. “Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi pada Galih?”, keluhku pada-Nya.

Di suatu siang bolong, kudengar kabar yang paling menyedihkan, paling menyakitkan, dan paling mengejutkan di sepanjang hidupku. Galih telah tiada dan pergi dari dunia ini untuk selamanya. Tak sadar rasanya aku menjerit pilu mendengar kabar itu. Dengan tak percaya, kuberlari menuju rumah Galih untuk membuktikan ketidakbenaran berita itu. Sesampainya di sana, terlihat sesosok tubuh yang terbaring diam di ruang tengah, terbujur kaku, dan terlihat pucat kulitnya. Dengan setengah kosong aku menatapnya. Aku pun mendekat ke tubuh itu dan langsung memeluk erat tubuhnya dengan tangisan yang tak dapat keluar dari mulutku. Aku tak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarku. Yang kuinginkan saat ini hanyalah memeluknya erat dan menenggelamkan tubuhku bersamanya. Terbayang segala kenangan yang kulalui bersamanya selama ini, terbayang segala kesediaannya menemaniku selama ini. Ingin kuteriakkan saat itu juga, “TUHAAAN JANGAN KAU AMBIL GALIH DARIKU”. Belum puas rasanya aku menjalani hari-hariku bersamanya. Tak pernah sekilas pun terpikirkan olehku bahwa suatu saat aku harus berpisah dan harus hidup sendiri tanpanya di sisiku. Ingin sekali kembali kuulang waktu-waktuku saat bersamanya. Belum sempat kusampaikan perasaan yang terlambat kusadari ini, bahwa sebenarnya aku mencintainya. “Ya Tuhan, tolong putarlah waktu agar dia tahu sebenarnya aku mencintainya Tuhan”.


Hari-hari tanpanya di dunia ini, begitu sulit rasanya meyakini bahwa sosoknya sudah tiada. Sekarang dia sudah berada di tempat yang nyaman karena terbebas dari rasa sakitnya. “Ah mungkin memang sudah seharusnya aku mengikhlaskan Galih pergi”, pikirku mencoba tegar.
“Yuli, ada yang ingin menemuimu sayang”, suara mama mengagetkan dan membuyarkan lamunanku. Muncul sesosok wanita yang sudah sangat kukenal dan sayang, dialah ibu Galih. Aku sempat kaget melihat beliau tiba-tiba ingin menemui dan berbicara denganku.
“Yuli, sebenarnya tante kesini ingin menyampaikan amanah dari Galih”, ibu Galih memulai pembicaraan itu. Mendengarnya jantungku tiba-tiba berdegup kencang.
“Amanah apa ya tante?”, jawabku terdengar penasaran.
Tanpa berbelit-belit, beliau pun menyampaikan amanah yang dimaksudnya.
“Sebenarnya selama ini Galih mencintai kamu Yuli”.

Kurasakan hening dan hampa secara tiba-tiba, kosong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar