Sabtu, 22 Oktober 2011

Penyebab Timbulnya Stres pada Remaja


     Sedikit mengulas mengenai stress yang seringkali kita alami, sebagai manusia yang selalu berpikir, dalam hal ini lebih ditekankan pada remaja.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
A.  Stres
1.         Pengertian
Stres merupakan suatu kondisi atau keadaan tubuh yang terganggu karena tekanan psikologis yang dapat mempengaruhi keadaan fisik seseorang. Selain itu, stres dapat pula diartikan dengan suatu kekuatan yang memaksa seseorang untuk berubah, bertumbuh, berjuang, beradaptasi atau mendapatkan keuntungan. Kedua pernyataan tersebut merupakan  sebagian kecil dari sekian banyak definisi mengenai stres. Banyak para ahli mengemukakan tentang definisi stres, salah satunya adalah Dr. Hans Selye yang mengemukakan bahwa stres adalah respons umum terhadap adanya tuntutan pada tubuh. Selain Dr. Hans Selye, adapula Richard S Lazarus yang menyatakan stres sebagai kondisi yang dialami bila seseorang sadar bahwa dirinya dituntut untuk bertindak melebihi sumber daya personal dan sosial yang dimilikinya.
Biasanya stres dikaitkan dengan penyakit kejiwaan. Namun adakalanya stres dapat dikaitkan dengan penyakit fisik. Banyak buku-buku kedokteran menyatakan bahwa hampir 50-70 % penyakit fisik disebabkan oleh stres atau tekanan. Hal tersebut dapat terjadi akibat dari penyakit kejiwaan yang dapat menyerang fisik apabila daya tahan tubuh penderita dalam keadaan lemah.
Manusia haruslah menganggap bahwa stres adalah suatu tantangan dalam hidup yang memanglah harus dilalui. Tanpa adanya stres, manusia takkan hidup dengan normal. Dengan munculnya stres, manusia harus bergerak untuk melawan stres.
Siapapun dapat mengalami stres, baik orang dewasa, remaja, maupun anak-anak sekalipun. Orang dewasa dapat mengalami stres ketika ia mendapatkan suatu masalah atau perubahan hidup, baik bersifat positif maupun negatif yang dapat menekan jiwa dan pikirannya. Remaja dapat pula mengalami stres ketika ia dihadapkan dengan suatu keadaan dimana terjadi perbedaan antara apa yang ada di dalam dirinya, baik dalam hati ataupun pikirannya terhadap kenyataan yang terjadi dalam kehidupan yang baru dikenalnya. Selain remaja maupun orang dewasa, anak-anak pun dapat mengalami stres. Mereka dapat mengalami stres ketika berada dalam kondisi atau keadaan yang memaksanya harus melakukan sesuatu.
Berdasarkan berbagai pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian stres adalah suatu bentuk respon dari dalam diri seseorang terhadap suatu keadaan yang menekan, baik jiwa maupun pikiran yang dapat dijadikan sebagai suatu kekuatan untuk berubah dan berjuang.
2.         Macam stres
Secara umum, stres diklasifikasikan menjadi 2 macam, yakni disstress (stres negatif) dan eustress (stres positif).
a.    Disstress (Stres negatif)
Disstres merupakan stres yang menciptakan pengaruh yang buruk atau negatif terhadap penderita stres. Contoh dari pengaruhnya adalah seseorang dapat merasakan suatu perasaan cemas, khawatir, menderita suatu penyakit fisik, atau hal negatif lainnya.
b.    Eustress (Stres positif)
Umumnya stres diketahui pasti bersifat negatif. Namun, setelah Dr. Hans Selye melakukan penelitian panjangnya, ia mengungkapkan bahwa ternyata stres pun ada yang bersifat positif. Eustress merupakan stres yang menciptakan pengaruh yang baik atau positif terhadap penderita stres. Hal ini berarti, sang penderita mampu mengalihkan stresnya ke hal-hal yang bermanfaat, contohnya stres tersebut dapat menjadikan seseorang berpikir atau bertindak kreatif, memiliki sikap kewaspadaan, memiliki pengalaman dapat menyelesaikan/menghadapi suatu masalah atau kondisi yang serupa, dan lain sebagainya.

B.  Sumber stres
Stres tak mungkin muncul begitu saja tanpa adanya penyebab. Hal-hal yang menjadi penyebab atau sumber dari munculnya stres disebut sebagai stressor. Banyak hal-hal yang ada di sekitar kita, bahkan yang ada dalam diri kita yang dapat menjadi sumber dari munculnya stres. Untuk lebih jelasnya, penulis memisahkan antara penyebab munculnya stres secara global dan penyebab munculnya stres pada remaja khususnya.
1.             Secara global
Yang menjadi sumber utama stres yaitu lingkungan, badan, dan pikiran. Faktor lingkungan dapat diperluas menjadi faktor lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Faktor lingkungan fisik yang dapat menjadi sumber stres, misalnya suhu, cahaya, polusi, udara, dan kepadatan. Contohnya adalah seseorang yang terbiasa tinggal di lingkungan pedesaan dengan udara yang bersih dan sedikit polusi harus merasakan tinggal dalam lingkungan perkotaan dengan udara yang tak lepas dari banyak polusi. Kemungkinan besarnya, orang tersebut akan mengalami stres diakibatkan lingkungan fisik yang tak biasa ditemuinya. Selain lingkungan fisik, adapula lingkungan sosial. Lingkungan sosial yang dapat menjadi sumber stres meliputi individual dan kelompok. Contoh sumber stres yang berupa individual adalah konflik peran dan tanggung jawab. Sedangkan contoh sumber stres yang berupa kelompok adalah hubungan dengan keluarga, teman, dll.
Sumber stres lainnya adalah badan. Faktor tersebut diartikan bahwa stres dapat muncul akibat adanya suatu tuntutan dalam tubuh untuk menyesuaikan diri dengan adanya perubahan dalam diri tersebut. Bentuk respon terhadap stres pada setiap orang berbeda-beda. Respon terhadap stres dimulai dan dikontrol oleh sistem saraf pusat (terdapat di otak dan sumsum tulang belakang) kemudian otak memberikan sinyal kepada kelenjar adrenal untuk mengeluarkan hormon adrenalin (ephinephrine dan norephinephrine) yang akan menimbulkan reaksi menyerah dan berjuang untuk menghadapi stres.
Selain faktor lingkungan dan badan, adapula faktor pikiran yang dapat menyebabkan stres. Seringkali orang menggunakan pikirannya untuk menafsirkan atau menganggap sesuatu bersifat negatif. Pikiran seperti inilah yang sering mengundang datangnya stres.
2.             Secara khusus pada remaja
Begitu mudah stres muncul pada diri seorang remaja. Remaja masih begitu labil sehingga hal inilah yang memicu munculnya stres pada diri remaja dengan mudah.
Penyebab munculnya stres pada remaja umumnya sama dengan penyebab munculnya stres secara global. Namun, lebih spesifiknya, sumber stres pada remaja seringkali disebabkan oleh faktor lingkungan sosial (individual dan kelompok), badan, maupun pikiran. Jarang ditemukan stres pada diri remaja disebabkan oleh faktor lingkungan fisik.
Faktor lingkungan sosial menjadi salah satu faktor penyebab munculnya stres pada remaja. Seperti yang telah dijelaskan pada sumber stres secara global, faktor lingkungan sosial dibedakan menjadi individual dan kelompok. Contoh dari faktor lingkungan sosial yang berupa individual adalah ketika seorang remaja dibebani sebuah tanggung jawab yang dirasa begitu sulit dilakukannya, maka tak jarang ia akan mengalami tekanan dalam dirinya yang juga disebut dengan stres. Sebenarnya masalah tersebut dikembalikan kepada individu masing-masing, tergantung bagaimana cara seseorang memandang masalah tersebut. Hal tersebut tidak akan menjadi sebuah tekanan apabila individu tersebut tidak memandangnya sebagai suatu tekanan. Begitulah maksud contoh penyebab stres pada remaja dari faktor individual.
Selain individual, ada pula perluasan faktor lingkungan sosial yang berupa kelompok. Contohnya dari faktor tersebut adalah seorang remaja yang harus menghadapi suatu masalah yang terjadi dalam hubungan keluarga, seperti terjadi perceraian di antara kedua orang tua remaja. Masalah tersebut dapat menimbulkan stres pada diri seorang remaja. Selain dalam hubungan keluarga, dapat pula terjadi dalam hubungan dengan kelompok lain, kelompok teman misalnya. Seorang remaja yang memiliki konflik dengan temannya juga dapat memicu munculnya stres.
Seperti yang telah disebutkan bahwa seorang remaja begitu mudah terkena stres. Penyebabnya adalah kondisi dari remaja itu sendiri yang masih labil. Dalam hal ini, seorang remaja mengalami fluktuasi hormon dan proses menuju kedewasaan. Usia remaja merupakan usia peralihan dari massa kanak-kanak menuju dewasa. Hal tersebut menyebabkan banyak sekali perubahan dalam diri remaja, khususnya emosi dari remaja tersebut.
Sikap-sikap atau emosi yang biasanya terdapat dalam diri seorang remaja antara lain merasa ingin menang sendiri (egois), menganggap bahwa dirinya adalah orang yang paling benar, mudah marah dan lain sebagainya. Sikap-sikap itulah yang dapat menjadikan stres mudah dialami oleh remaja dari segi emosional.

C.  Pengaruh Stres pada Remaja
Pengaruh dari seringnya mengalami stres akan berakibat buruk pada otak, ketidakseimbangan kimiawi. Stres juga akan berpengaruh pada kefokusan, memori, dan konsentrasi. Hal tersebut misalnya terjadi pada seorang pelajar yang seringkali mengalami stres, maka konsentrasinya akan terganggu khususnya dalam menerima pelajaran di sekolah. Ia takkan fokus pada pelajaran yang diberikan oleh gurunya sehingga hal itu akan mengganggu prestasinya di sekolah.
Selain itu, stres juga dapat berpengaruh terhadap pribadi seorang penderita stres, baik pengaruh negatif maupun positif. Bentuk pengaruh stres sebenarnya ditentukan oleh seseorang yang mengalami stres tersebut. Seseorang yang cenderung mudah menyerah dalam mengahadapi masalah akan menimbulkan pengaruh yang buruk (negatif) dari kemunculan stres tersebut. Sedangkan seseorang yang selalu berusaha untuk melawan stres yang datang akan menimbulkan pengaruh yang baik (positif) dari kemunculan stres tersebut.
Stres yang dialami oleh seorang remaja memberikan pengaruh terhadap masing-masing diri remaja tersebut. Berikut adalah contoh dari pengaruh stres terhadap remaja, baik berupa pengaruh negatif maupun positif :
Ada dua pelajar, yaitu pelajar A dan pelajar B. Mereka sama-sama mendapatkan nilai ulangan di bawah rata-rata. Karena hal itu, kedua pelajar tersebut mengalami stres. Akan tetapi dalam menanggapinya, antara keduanya mengalami perbedaan. Pelajar A menanggapinya dengan tidak berangkat sekolah karena malu dengan teman-temannya. Sedangkan pelajar B menanggapinya dengan belajar lebih sungguh-sungguh agar ia dapat memperbaiki nilainya. Hal ini menunjukkan bahwa stres memberikan pengaruh negatif kepada pelajar A, yaitu menjadikan pelajar tersebut seorang pemalas dan takut menghadapi suatu kenyataan. Namun stres memberikan pengaruh yang positif kepada pelajar B, yaitu menjadikan pelajar tersebut rajin belajar dan berani menghadapi suatu masalah.
Dari contoh tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa stres dapat memberikan pengaruh negatif kepada remaja yang biasanya mudah menyerah ketika menghadapi suatu masalah. Sedangkan stres dapat memberikan dampak/pengaruh positif kepada remaja yang cenderung lebih berusaha keras ketika menghadapi suatu masalah.

D.  Cara Menghindari dan Mengatasi Stres pada Remaja
Cara untuk menghindari ataupun mengatasi stres pada remaja sama dengan orang dewasa pada umumnya. Namun, haruslah disesuaikan dengan kondisi dari remaja tersebut. Berikut adalah cara untuk menghindari dan mengatasi stres pada remaja secara umum:
- Jauhkan diri dari situasi-situasi yang menekan.
Untuk menghindari datangnya stres, hendaknya kita menjauhi suatu keadaan yang menekan, seperti apabila kita merasa tertekan ketika harus mendapatkan nilai di bawah rata-rata, maka kita harus berusaha keras agar tak mendapatkan nilai di bawah rata-rata.
- Jangan mempermasalahkan hal-hal yang sepele.
Ketika seseorang seringkali membuat sesuatu hal yang sepele menjadi suatu masalah, maka banyak kemungkinan orang tersebut akan sering mengalami stres. Sehingga untuk menghindari kemungkinan datangnya stres, hendaknya tidak mempermasalahkan suatu hal atau keadaan yang sepele. Biarkanlah hal atau kedaan tersebut berjalan apa adanya.
- Kendalikan pikiran.
Mengendalikan pikiran merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindari ataupun mengatasi stres. Ketika seseorang mengalami stres, hendaknya ia menganggap bahwa dirinya mampu melewati tekanan tersebut. Hal itu akan memicu timbulnya semangat dalam diri untuk bangkit dari keadaan yang menekan.
- Kurangi stimulan penyebab stres.
Stres biasanya merupakan efek samping dari kebanyakan kafein. Stimulator sistem saraf pusat yang dipengaruhi kafein itu bertentangan dengan relaksasi tubuh dan ketenangan pikiran yang akan memicu munculnya stres. Sehingga untuk menghindari ataupun mengatasi munculnya stres, hendaknya kita harus mengurangi stimulan penyabab stres yaitu berupa minuman atau apapun yang mengandung kafein dan minuman bersoda.
- Cukup istirahat.
- Olahraga secara teratur
- Makanlah makanan yang sehat
- Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan.
Untuk menghindari munculnya stres, hendaknya kita harus meluangkan waktu untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan, seperti membaca, menonton, mendengarkan musik, ataupun berkumpul dengan teman-teman.
-----------------------------------------------------------------------------------------
semoga tulisan di atas dapat memberikan manfaat.:)

Jumat, 07 Oktober 2011

7-Habits



Akan menjadi sesuatu yang tak mudah ketika saya dituntut untuk bertransformasi menjadi diri saya yang baru. Salah satu masa hidupku saat ini, suatu bentuk perubahan diri, yaitu masa transisi dari seorang siswa menjadi sebuah nama besar yang memanggul tanggung jawab besar pula, seorang mahasiswa. Masa ini bukanlah masa yang mudah dan enteng. Mulai dari mengubah pola pikir, mengoreksi cara pandang, dan mungkin saja hingga membenahi kebiasaan, menjadi pr dan tugas yang terbenam dalam otakku. Pola pikirku yang tak ada kata dewasa sama sekali dalam kedudukannya haruslah kugeser tingkatannya sehingga menuju pola pikir fase dewasa. Tak hanya sebatas pola pikir, sama halnya untuk menjadi sebuah pribadi yang lebih agung, cara pandang haruslah ditata dan tentunya diatur dengan tatanan yang rapi. Pembenahan kebiasaan pun akan memudahkan kita untuk melangkah maju dan terus maju ke depan karena kebiasaan yang baik akan membentuk suatu kepribadian yang baik pula, terutama dalam persiapan bagi sebuah harapan bangsa, seorang mahasiswa.
Tak bisa dielakkan bahwa mimpi dan angan masyarakat suatu negara digantungkan pada bangsa mudanya, terutama para mahasiswanya. Hal itu memanglah masih mendiam dalam pikiranku, sanggupkah aku nantinya menjadi suatu guna bagi bangsaku sendiri. Memanggul angan dan cita yang besar milik bangsa, sulit tak terkira tentunya. Untuk menempatkan diri sendiri pada suatu mimpi pun dibutuhkan suatu kerja keras serta pengorbanan di setiap kaki melangkah, apalagi untuk menuju suatu mimpi besar bangsa pasti dituntut agar kita dapat melakukan suatu kerja atau usaha melebihi untuk kepentingan keberhasilan diri pribadi. Memang tak mudah, bahkan jelas sangat sulit untuk menjalani setiap proses itu. Namun seluruh agen pendidikan pasti berusaha untuk mempersiapkan segala hal itu, salah satunya adalah kampus tercinta, Institut Teknologi Bandung.
Dalam rangkaian program penerimaan mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung tahun 2011 ini terdapat program yang dinamakan “Pelatihan 7 Habits”. Kegiatan ini adalah tahun pertama kali diselenggarakan di ITB dalam rangkaian program penerimaan mahasiswa baru. Dalam hal ini, ITB bertujuan agar para mahasiswanya tak hanya cerdas dalam akademiknya tetapi juga unggul dalam segala bentuk kepribadiannya dengan cara mengasah kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan dalam “Pelatihan 7 Habits” ini. Inilah cerita saya setelah dua hari mengikuti kegiatan “Pelatihan 7 Habits”.
Pertama kali mendengar bahwa pada tahun ini ITB akan mengadakan program “Pelatihan 7 Habits”, saya sangat tertarik. Saya berpikir kegiatan tersebut pasti akan sangat bermanfaat, khususnya bagi kami, para mahasiswa baru, yang belum mengerti apapun mengenai pengalaman kehidupan kampus. Selama mengikuti kegiatan pelatihan, jujur saja saya sempat mengalami kebosanan dalam menerima materi yang diberikan dari fasilitator. Teori itu memang dengan sangat mudah dapat dihafalkan, mulai dari “Be Proaktif, Begin with the End in Mind, Put the First Thing First, Thing Win-win, Seek to Understood and then to be Understand, Sinergis, hingga Sharpened the Saw”. Namun ternyata aplikasinya tak semudah bagi kita untuk mengingat kata-katanya.
1.        Be Proaktif
Poin ini mengajarkan kepada kita untuk dapat menerima suatu keadaan tanpa mengeluarkan suatu bentuk keluhan apapun dan memberikan aksi atau tindakan positif terhadap keadaan tersebut. Saya berpikir bahwa dalam hidup saya, saya harus selalu mengingat “be proaktif” ini. Sifat saya yang cenderung suka mengeluh bahkan tak jarang menyalahkan keadaan tertentu ketika terjadi suatu masalah, itu akan menjadi suatu masalah baru yang nantinya saya yakin akan merugikan diri saya sendiri. Menjadi seseorang yang sadar dan mengerti akan “be proaktif” memang tidak mudah dalam prosesnya untuk menuju hal itu. Dibutuhkan adanya latihan dan kemauan untuk membiasakan diri dalam menerapkan poin tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan kuliah baru-baru ini, saya merasa beberapa masalah datang beruntun pada saya, salah satunya adalah masalah akademik, yang saya pikir tak hanya saya yang mengalami masalah tersebut. Salah satu contoh kasusnya adalah saya menerima nilai kuis dari salah satu mata kuliah dan baru pertama kali itu saya mendapat nilai yang sangat menyedihkan, yakni 30. Nilai itu memang menjadi tekanan batin yang sangat berat bagi saya. Namun, tidak pantas rasanya apabila ilmu yang sudah saya dapatkan dalam pelatihan 7 habits ini tidak saya aplikasikan. Memang awalnya saya kecewa tetapi saya merasa bahwa kekecewaan itu tidak boleh berlarut-larut. Saya harus segera kembali ke dalam diri saya dan secepat mungkin menemukan solusi yang tepat bagi masalah itu. Yang ada dalam pikiran saya adalah mungkin ini memang bentuk awal dari perjalanan saya yang justru memberikan peluang bagi saya untuk melakukan intropeksi diri agar menuju hasil terbaik. Saya memang masih merasa tidak bisa memanage waktu dengan baik sehingga saya dituntut agar bisa menjadi pengatur waktu yang baik. Tak hanya itu, saya pun berpikir mungkin saja ada sedikit kekeliruan dalam belajar saya sehingga solusinya adalah saya harus bisa segera menemukan metode belajar yang lebih efektif dan efisien. Dengan “be proaktif”, saya yakin akan menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan saya akan terus melatih diri saya dengan membiasakan diri untuk selalu menerapkan prinsip ini dalam menghadapi suatu masalah sehari-hari.
2.        Begin with the End in Mind
Tak cukup hanya menjadi seorang yang proaktif saja. Habit selanjutnya adalah kita  harus membiasakan diri untuk selalu memikirkan tujuan apa yang ingin kita capai. Agar terbentuk suatu langkah yang yakin dan benar, mulanya kita diharuskan untuk memiliki sebuah tujuan. Tak mungkin kita tahu akan melangkah kemana apabila dalam hidup ini kita tidak memiliki tujuan apapun. Inti dari semua pernyataan itu, mulailah semua langkah dalam kehidupan ini dengan memikirkan apa sebenarnya tujuan akhir kita. Jadi, dengan otomatis langkah kita pun akan terarah dan tertuju pada sebuah titik mimpi yang kita harapkan. Contoh kasus yang pernah saya alami dalam hal ini adalah ketika saya gagal untuk mengikuti olimpiade sains mewakili sekolah saya hanya di tingkat kabupaten/kota. Sangat menyesal ketika saya harus melewatkan kesempatan yang seharusnya bisa saya dapatkan untuk mengukir prestasi di SMA. Pada waktu itu diadakan seleksi olimpiade sains tingkat sekolah dan sudah pasti saya semangat mengikuti kegiatan itu. Di akhir cerita, saya sempat kaget, menyesal, dan cukup kecewa ketika tahu bahwa ternyata saya tidak berhasil lolos seleksi itu. Saya merasa bahwa saat itu kesempatan saya telah tertutup untuk bisa mengikuti suatu kompetisi mewakili SMAku. Namun akhirnya saya menyadari suatu kekurangan yang menyebabkan saya kalah pada waktu itu. Meskipun saya merasa ingin dan mau untuk lolos seleksi, sebenarnya saya tidak memvisualisasikan tujuanku itu dalam benak dan pikiran saya. Hal itu menyebabkan kekuatan pikiran saya tidak terlalu kuat sehingga akhirnya terbentuklah langkah-langkah yang seharusnya tidak saya ambil. Keadaan itu akhirnya menjadi pengalaman dan pelajaran dalam kehidupanku agar selalu menjadi orang yang “begin with the end in mind”.
3.        Put the First Thing First
Satu kata mudah untuk mewakili poin di atas adalah prioritas. Dalam hidup ini, kita harus memiliki sebuah prioritas, apalagi ketika kita barada dalam suatu keadaan yang menuntut kita untuk memilih. Prioritas adalah hal mana yang kita anggap lebih dulu penting untuk dipenuhi atau dikerjakan, maka pilihlah hal itu. Sebagai seorang yang aktif, mahasiswa haruslah bisa menentukan suatu prioritas karena tentu kita akan dihadapkan pada keadaan-keadaan yang mengharuskan kita untuk menomor duakan sesuatu. Dalam hal ini, kita harus bisa menganalisis kebutuhan kita sendiri, pilihan mana yang kira-kira lebih penting bagi kita. Apabila kita terbiasa menjalankan poin ini, maka saya yakin bahwa tak akan menjadi mustahil kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam menentukan sikap dan pastinya bertanggung jawab dalam setiap pilihan yang diambil.
4.        Thing Win-win
Setelah berkutat kepada diri sendiri dalam tiga poin, yaitu be proaktif, begin with the end in mind, dan put the first thing thing, akhirnya dalam poin ini kita akan melibatkan orang lain untuk membentuk kebiasaan baik kita. Thing win-win mengajarkan kita agar tidak hanya memikirkan kemenangan diri sendiri tetapi juga merangkul orang lain untuk menang. Tentunya tidak ada kata egois agar prinsip ini dapat berjalan. Di sini kita lebih banyak dituntut untuk mau peduli terhadap orang lain. Namun bukan berarti ketika kita memberikan kemenangan untuk orang lain, maka kita harus membiarkan diri kita kalah. Prinsip ini akan berlaku apabila tak hanya saya ataupun orang lain yang menang tetapi saya dan orang lainlah yang sama-sama menjadi seorang pemenang. Bagi saya, poin ini sangat sulit untuk dibiasakan karena tak hanya saya harus mengatur diri sendiri tetapi saya pun harus mau dan bisa membuat orang lain berbagi kemenangan dengan saya. Apabila prinsip ini terbiasakan dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin akan menjadi sosok yang lebih peduli dan tidak egois.
5.        Seek to Understood and then to be Understand
Jika kamu mau didengarkan, maka dengarkan orang lain. Jika kamu mau dihormati, maka hormatilah orang lain dan jika kamu mau dipahami, maka pahamilah orang lain. Semua hal itu memanglah sebuah hukum alam, ketika kita melakukan suatu aksi, maka timbullah suatu reaksi yang pastinya tergantung dari aksi kita. Prinsip ini mengajarkan saya untuk mau berusaha melakukan sesuatu ketika saya menginginkan sesuatu itu. Contoh kasus sederhananya adalah ketika saya menginginkan kamarku bersih, maka saya harus mau membersihkannya. Prinsip ini sebenarnya tak bisa kita lakukan untuk diri kita sendiri, melainkan pasti akan melibatkan orang lain agar manfaat prinsip ini bisa kita dapatkan. “Pahamilah, baru kemudian kamu dipahami”J
6.        Sinergis
Sebenarnya tak cukup hanya pada lima prinsip di atas, masih ada prinsip “sinergis” yang mengharuskan kita untuk mampu bersinergi atau bekerja sama dengan banyak orang untuk melakukan sesuatu yang produktif. Sinergi ini tak hanya berhubungan dengan satu orang saja tetapi banyak orang sehingga kita akan terbiasa dengan “team work”. Dengan bekerja bersama tim, akan menghasilkan suatu pekerjaan yang lebih daripada ketika kita melakukan pekerjaan itu sendirian. Jadi sebenarnya sinergi ini sangat penting bagi kita untuk menghasilkan sesuatu yang lebih, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Saya selalu berpikir bahwa kemampuan kita untuk bersinergi dengan orang lain atau bekerja secara tim itu sangat dibutuhkan, apalagi nantinya ketika kita harus terjun dalam dunia pekerjaan. Oleh karena itu, saya ingin selalu mengasah kemampuan bersinergi saya agar saya tidak merasa kesulitan ketika kita dituntut untuk menerapkan prinsip “team work”.
7.        Sharpened the Saw
Apabila kita sudah menerapkan keenam habits itu, kita tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Pengembangan-pengembangan diri serta pembaharuan harus selalu dilakukan untuk menjadi yang lebih baik. Tak ada artinya keenam habits itu jika tidak selalu diasah agar menuju kebiasaan yang mendekati sempurna, jadi prinsip “sharpened the saw” juga penting bagi kelangsungan keberhasilan pembentukkan kepribadian ini.
Saya tahu, tidak cukup hanya satu bulan untuk membiasakan diri dalam melaksanakan 7 habits tersebut. Sedikit demi sedikit dan dengan pasti saya akan selalu berusaha menerapkan prinsip-prinsip yang sudah saya dapatkan di pelatihan 7 habits. Saya mengakui bahwa semua itu membutuhkan proses dan haruslah dengan kemauan dan tekad yang kuat agar nantinya pelatihan ini dapat memberikan manfaat dalam kehidupan kita. Apabila kebiasaan-kebiasaan baik tersebut sudah melekat dalam diri kita, sudah pasti dan tentu 3 nilai inti ITB dapat dicapai dengan mudah, yaitu integritas, prestasi, dan komitmen. Integritas akan dengan sendirinya muncul dalam diri seorang mahasiswa ITB apabila kita sudah terbiasa dalam mengatasi diri sendiri, orang lain, dan orang banyak. Karakter integritas itu tanpa disadari akan menjadi milik kita. Tak hanya integritas, prestasi pun akan mudah dicapai ketika segala penyokongnya, yaitu 7 habits itu sudah mampu ditaklukkan. Saya berpikir, prestasi akan menjadi nilai yang paling mudah dicapai dalam hal ini. Nilai inti selanjutnya adalah komitmen. Setelah menerapkan seluruh  nilai 7 habits, sudah pasti kita bisa memanage diri sendiri, bahkan orang lain. Jadi akan menjadi hal yang mudah bagi seorang mahasiswa untuk berkomitmen apalagi komitmen dalam hal kemajuan tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi orang lain, hingga bangsa, bahkan almamater.

Manusia Tanpa Cela


Ibu,
Engkau adalah wanita yang dimuliakan Allah,
wanita yang ditakdirkan untuk banyak hal.
Engkau sungguh manusia tanpa cela, Ibu.

Hadirku sebagai alasan akan hadirmu.
Tawamu sebagai simbol akan kebahagiaanku.
Tangismu sebagai simbol akan kesedihanku.
Do'amu sebagai wujud kasih sayangmu padaku.

Ibu,
kau relakan tubuhmu menerima sakit demi kelahiranku ke dunia.
kau lupakan rasa takutmu akan kematian demi keselamatanku.
kau berikan banyak pengorbanan untuk kebahagiaanku.
Namun, apa yang kau dapatkan Ibu?
Hanya kenakalan-kenakalan yang selalu kuberikan kepadamu.
Tak pernah kuingat akan pengorbanan jiwa dan ragamu yang kau persembahkan untukku.
Tak pernah kuberikan kasih sayang ini sepenuhnya untukmu Ibu.
Namun, tak pernah kau berikan secuil pun kebencian padaku.
Hanya kesabaran yang menjadi modalmu untuk mendidikku.
Tak pernah kau pinta balas akan kasih sayangmu padaku.

Ibu,
Aku adalah anak yang berdosa.
Aku adalah anak yang cela.
Anak yang tak tahu akan terima kasih.

Ibu,
Sungguh takkan pernah bosan tuk pinta maaf darimu.
Agar aku dapat menggapai surga di telapak kakimu.

Khayalan Mimpi


Hening malam kurasa.
Detik waktu mengiringi langkah sang rembulan.
Pikirku berkelana mencari suatu cita.
Suatu cita yang akan menyelamatkanku dari keterpurukan.
Khayal mengisi benakku.
Membentangkan suatu gambaran akan masa depan.
Hatiku merintih kelu,
akan jadi apa aku kelak,
akan seperti apa aku kelak.
Dengan bekal kekosongan,
harus kulampaui,
harus kurenggut masa depan.
Masa depan yang selalu mencoba menjauh dariku.
Ku kan kejar, ku kan berlari dan berlari.
Menggapai mimpi dan cita.
---------------------------------

Rabu, 05 Oktober 2011

Cinta Buta

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Mengapa harus diawali dengan kalimat itu??
Hehe,, alasannya adalah agar orang2 yang membaca cerita ini, setelahnya tidak berpikir buruk mengenai saya, hidup saya, maupun prinsip saya. Check it out.

------------------------

Hidup dalam tumpukan segala rutinitas, itulah aku, Indah Shantika. Terjun dalam sebuah pekerjaan sebagai seorang karyawan suatu perusahaan swasta di Jakarta. Tak ada beberapa atau bahkan suatu hal yang istimewa dalam hidupku. Aku adalah seorang wanita biasa yang bukan berasal dari keluarga luar biasa. Pendidikanku cukup dengan bertitelkan sarjana di belakang namaku, sama halnya dengan kebanyakan kaum wanita di negeri ini. Ya, akulah tipe wanita yang sangat mudah ditemukan di kota Jakarta. Tubuh dan wajahku tak selayaknya model yang selalu dielu-elukan parasnya. Namun, aku bukanlah wanita rendah diri yang malu untuk keluar rumah dan selalu menutup diri dari pergaulan dengan masyarakat. Ya, itu semua karena aku adalah wanita biasa. Segala sesuatu dalam hidupku adalah hal yang sangat biasa.

Di kota metropolitan ini, aku tinggal dan berteduh dalam sebuah rumah sewa kecil tanpa siapapun. Sebagai seorang perantau, aku pun sendiri di kota ini. Aku telah menentukan jalan hidupku dengan meninggalkan seluruh keluargaku di sebuah kota kecil, tempat aku dilahirkan. Aku memang bertekad untuk meraih semua mimpiku di kota ini. Mimpi yang sudah mulai kujajaki meskipun harus dengan langkah demi langkah.

Pagi ini aku pun akan menjalani aktivitas rutinku, berkantor. Seperti biasa, berangkat ke kantor, aku selalu bersama dengan Desti. Sebagai makhluk sosial, aku pun takkan bisa menjalani hidupku sendiri tanpa orang lain. Destilah orang lain itu. Seseorang yang rela menjadi teman hidupku dalam perantauanku ini. Ia pun sama denganku, wanita biasa yang memang sengaja datang ke Jakarta untuk memperbaiki nasibnya. Setiap hari aku menjalani hidupku dengannya. Mengapa tidak? Ia bekerja di kantor yang sama denganku. Tak mungkin aku berangkat dan pulang kantor tanpa bersamanya. Memang, hidup ini takkan indah tanpa ada seseorang di samping kita. Suatu saat, terkadang aku pun mengucap syukur karena kebaikan Tuhan yang sudah mengirimkan Desti untukku.

“Ndah, bentar lagi kan tahun baru, elu ada rencana balik kampung?” tanya Desti serius kepadaku.

Berbagai hiasan tahun baru di mall ini pasti mengingatkan Desti akan tahun baru yang dalam hitungan hari akan dirayakan oleh manusia di seluruh dunia. Aku sadar, begitu lama aku tak melihat seluruh keluargaku. Tak pernah tersempatkan olehku untuk mengunjungi mereka. Entah mengapa, tapi aku mulai merasa bahwa rutinitas ini mulai membelengguku.

Suatu siang di kantor, aku beserta rekan-rekanku sedang asyik berbincang membicarakan sesuatu. Tawa dan cekikikan dari semuanya mengiringi obrolan kami.

“Denger2, Desti bentar lagi mau married, bener nggak Ndah?” tanya seorang rekanku.

Mendengar tanyanya, tiba-tiba saja aku merasa aneh. Kesal dan entah apa aku tak bisa mengerti. Selama ini aku mengetahui, Desti tak pernah menyembunyikan apapun dariku. Jangankan mau menikah, aku pun tak pernah tahu bahwa selama ini Desti memiliki pacar.

Sore ini, seperti biasa aku pulang kantor bersama Desti. Mungkin inilah saat yang tepat mengungkapkan rasa penasaranku padanya.

“Des, jujur ya sama gue, elu mau married? Kok nggak pernah cerita sama gue, kalo selama ini elu udah punya cowo?” tanyaku mencoba untuk meredam emosi, tapi aku yakin usahaku itu tak berhasil. Aku mendengar suaraku yang begitu marah dan kecewa pada sahabatku.

“Kok elu udah tau Ndah. Gue kan belum cerita apapun ke elu. Sebenernya,,,,” jawabnya tak terdengar lagi olehku karena hatiku sudah terlanjur sakit dan aku pun lari menjauhinya.

Hari demi hari setelah kejadian itu, aku lalui sendiri tanpanya. Beratus kali Desti mencoba menelponku, mengirim sms dengan segala kata maafnya untukku. Namun, beratus kali pula aku mencampakkan panggilannya dan mengabaikan permohonan maafnya. Aku terlanjur marah padanya. Aku pun terkadang berpikir mengapa begitu sulit aku memaafkannya. Namun, setelah lama aku merenunginya, sebenarnya hati ini tak pernah membencinya, bahkan marah kepadanya. Aku yakin bahwa aku hanya kecewa padanya, kecewa yang begitu dalam sehingga aku sulit merelakannya.

“Ndah, tolong maafin gue. Jujur gue nggak ngerti kenapa elu bisa semarah ini sama gue?” tanya Desti seketika menemukanku di taman sedang duduk sendiri. Aku tak mungkin lagi menghindar darinya. Dengan mata penuh air mata yang sebentar lagi akan mengucur melewati pipinya, Desti memohon maaf padaku. Aku menatap dalam matanya, memandang wajahnya yang begitu teduh. Diam-diam selama ini, aku mengagumi paras cantiknya, baik tingkahnya. Aku pun semakin yakin dengan segala perasaanku ini.

“Gue bener2 minta maaf Ndah,” sebelum Desti menyelesaikan kalimatnya, aku menutup bibirnya dengan telunjukku. Aku pun bertekad untuk menyampaikan semuanya.

“Elu nggak salah Des, sebenarnya ini semua salah gue. Gue baru sadar kalo selama ini, gue suka sama elu. Gue cinta sama elu. Ini semua salah gue Des. Gue minta maaf,” tangis mulai pecah dari mulutku. Kulihat begitu terkejut wajah Desti. Desti pun pergi meninggalkanku sendiri tenggelam dalam air mata penyesalanku.