Rabu, 05 Oktober 2011

Cinta Buta

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Mengapa harus diawali dengan kalimat itu??
Hehe,, alasannya adalah agar orang2 yang membaca cerita ini, setelahnya tidak berpikir buruk mengenai saya, hidup saya, maupun prinsip saya. Check it out.

------------------------

Hidup dalam tumpukan segala rutinitas, itulah aku, Indah Shantika. Terjun dalam sebuah pekerjaan sebagai seorang karyawan suatu perusahaan swasta di Jakarta. Tak ada beberapa atau bahkan suatu hal yang istimewa dalam hidupku. Aku adalah seorang wanita biasa yang bukan berasal dari keluarga luar biasa. Pendidikanku cukup dengan bertitelkan sarjana di belakang namaku, sama halnya dengan kebanyakan kaum wanita di negeri ini. Ya, akulah tipe wanita yang sangat mudah ditemukan di kota Jakarta. Tubuh dan wajahku tak selayaknya model yang selalu dielu-elukan parasnya. Namun, aku bukanlah wanita rendah diri yang malu untuk keluar rumah dan selalu menutup diri dari pergaulan dengan masyarakat. Ya, itu semua karena aku adalah wanita biasa. Segala sesuatu dalam hidupku adalah hal yang sangat biasa.

Di kota metropolitan ini, aku tinggal dan berteduh dalam sebuah rumah sewa kecil tanpa siapapun. Sebagai seorang perantau, aku pun sendiri di kota ini. Aku telah menentukan jalan hidupku dengan meninggalkan seluruh keluargaku di sebuah kota kecil, tempat aku dilahirkan. Aku memang bertekad untuk meraih semua mimpiku di kota ini. Mimpi yang sudah mulai kujajaki meskipun harus dengan langkah demi langkah.

Pagi ini aku pun akan menjalani aktivitas rutinku, berkantor. Seperti biasa, berangkat ke kantor, aku selalu bersama dengan Desti. Sebagai makhluk sosial, aku pun takkan bisa menjalani hidupku sendiri tanpa orang lain. Destilah orang lain itu. Seseorang yang rela menjadi teman hidupku dalam perantauanku ini. Ia pun sama denganku, wanita biasa yang memang sengaja datang ke Jakarta untuk memperbaiki nasibnya. Setiap hari aku menjalani hidupku dengannya. Mengapa tidak? Ia bekerja di kantor yang sama denganku. Tak mungkin aku berangkat dan pulang kantor tanpa bersamanya. Memang, hidup ini takkan indah tanpa ada seseorang di samping kita. Suatu saat, terkadang aku pun mengucap syukur karena kebaikan Tuhan yang sudah mengirimkan Desti untukku.

“Ndah, bentar lagi kan tahun baru, elu ada rencana balik kampung?” tanya Desti serius kepadaku.

Berbagai hiasan tahun baru di mall ini pasti mengingatkan Desti akan tahun baru yang dalam hitungan hari akan dirayakan oleh manusia di seluruh dunia. Aku sadar, begitu lama aku tak melihat seluruh keluargaku. Tak pernah tersempatkan olehku untuk mengunjungi mereka. Entah mengapa, tapi aku mulai merasa bahwa rutinitas ini mulai membelengguku.

Suatu siang di kantor, aku beserta rekan-rekanku sedang asyik berbincang membicarakan sesuatu. Tawa dan cekikikan dari semuanya mengiringi obrolan kami.

“Denger2, Desti bentar lagi mau married, bener nggak Ndah?” tanya seorang rekanku.

Mendengar tanyanya, tiba-tiba saja aku merasa aneh. Kesal dan entah apa aku tak bisa mengerti. Selama ini aku mengetahui, Desti tak pernah menyembunyikan apapun dariku. Jangankan mau menikah, aku pun tak pernah tahu bahwa selama ini Desti memiliki pacar.

Sore ini, seperti biasa aku pulang kantor bersama Desti. Mungkin inilah saat yang tepat mengungkapkan rasa penasaranku padanya.

“Des, jujur ya sama gue, elu mau married? Kok nggak pernah cerita sama gue, kalo selama ini elu udah punya cowo?” tanyaku mencoba untuk meredam emosi, tapi aku yakin usahaku itu tak berhasil. Aku mendengar suaraku yang begitu marah dan kecewa pada sahabatku.

“Kok elu udah tau Ndah. Gue kan belum cerita apapun ke elu. Sebenernya,,,,” jawabnya tak terdengar lagi olehku karena hatiku sudah terlanjur sakit dan aku pun lari menjauhinya.

Hari demi hari setelah kejadian itu, aku lalui sendiri tanpanya. Beratus kali Desti mencoba menelponku, mengirim sms dengan segala kata maafnya untukku. Namun, beratus kali pula aku mencampakkan panggilannya dan mengabaikan permohonan maafnya. Aku terlanjur marah padanya. Aku pun terkadang berpikir mengapa begitu sulit aku memaafkannya. Namun, setelah lama aku merenunginya, sebenarnya hati ini tak pernah membencinya, bahkan marah kepadanya. Aku yakin bahwa aku hanya kecewa padanya, kecewa yang begitu dalam sehingga aku sulit merelakannya.

“Ndah, tolong maafin gue. Jujur gue nggak ngerti kenapa elu bisa semarah ini sama gue?” tanya Desti seketika menemukanku di taman sedang duduk sendiri. Aku tak mungkin lagi menghindar darinya. Dengan mata penuh air mata yang sebentar lagi akan mengucur melewati pipinya, Desti memohon maaf padaku. Aku menatap dalam matanya, memandang wajahnya yang begitu teduh. Diam-diam selama ini, aku mengagumi paras cantiknya, baik tingkahnya. Aku pun semakin yakin dengan segala perasaanku ini.

“Gue bener2 minta maaf Ndah,” sebelum Desti menyelesaikan kalimatnya, aku menutup bibirnya dengan telunjukku. Aku pun bertekad untuk menyampaikan semuanya.

“Elu nggak salah Des, sebenarnya ini semua salah gue. Gue baru sadar kalo selama ini, gue suka sama elu. Gue cinta sama elu. Ini semua salah gue Des. Gue minta maaf,” tangis mulai pecah dari mulutku. Kulihat begitu terkejut wajah Desti. Desti pun pergi meninggalkanku sendiri tenggelam dalam air mata penyesalanku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar