Akan menjadi sesuatu
yang tak mudah ketika saya dituntut untuk bertransformasi menjadi diri saya
yang baru. Salah satu masa hidupku saat ini, suatu bentuk perubahan diri, yaitu
masa transisi dari seorang siswa menjadi sebuah nama besar yang memanggul tanggung
jawab besar pula, seorang mahasiswa. Masa ini bukanlah masa yang mudah dan enteng. Mulai dari mengubah pola pikir,
mengoreksi cara pandang, dan mungkin saja hingga membenahi kebiasaan, menjadi
pr dan tugas yang terbenam dalam otakku. Pola pikirku yang tak ada kata dewasa
sama sekali dalam kedudukannya haruslah kugeser tingkatannya sehingga menuju
pola pikir fase dewasa. Tak hanya sebatas pola pikir, sama halnya untuk menjadi
sebuah pribadi yang lebih agung, cara pandang haruslah ditata dan tentunya diatur
dengan tatanan yang rapi. Pembenahan kebiasaan pun akan memudahkan kita untuk
melangkah maju dan terus maju ke depan karena kebiasaan yang baik akan
membentuk suatu kepribadian yang baik pula, terutama dalam persiapan bagi
sebuah harapan bangsa, seorang mahasiswa.
Tak bisa dielakkan
bahwa mimpi dan angan masyarakat suatu negara digantungkan pada bangsa mudanya,
terutama para mahasiswanya. Hal itu memanglah masih mendiam dalam pikiranku,
sanggupkah aku nantinya menjadi suatu guna bagi bangsaku sendiri. Memanggul
angan dan cita yang besar milik bangsa, sulit tak terkira tentunya. Untuk
menempatkan diri sendiri pada suatu mimpi pun dibutuhkan suatu kerja keras
serta pengorbanan di setiap kaki melangkah, apalagi untuk menuju suatu mimpi
besar bangsa pasti dituntut agar kita dapat melakukan suatu kerja atau usaha
melebihi untuk kepentingan keberhasilan diri pribadi. Memang tak mudah, bahkan jelas
sangat sulit untuk menjalani setiap proses itu. Namun seluruh agen pendidikan
pasti berusaha untuk mempersiapkan segala hal itu, salah satunya adalah kampus
tercinta, Institut Teknologi Bandung.
Dalam rangkaian program
penerimaan mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung tahun 2011 ini terdapat
program yang dinamakan “Pelatihan 7 Habits”. Kegiatan ini adalah tahun pertama
kali diselenggarakan di ITB dalam rangkaian program penerimaan mahasiswa baru.
Dalam hal ini, ITB bertujuan agar para mahasiswanya tak hanya cerdas dalam
akademiknya tetapi juga unggul dalam segala bentuk kepribadiannya dengan cara
mengasah kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan dalam “Pelatihan 7 Habits”
ini. Inilah cerita saya setelah dua hari mengikuti kegiatan “Pelatihan 7
Habits”.
Pertama kali mendengar
bahwa pada tahun ini ITB akan mengadakan program “Pelatihan 7 Habits”, saya
sangat tertarik. Saya berpikir kegiatan tersebut pasti akan sangat bermanfaat,
khususnya bagi kami, para mahasiswa baru, yang belum mengerti apapun mengenai
pengalaman kehidupan kampus. Selama mengikuti kegiatan pelatihan, jujur saja
saya sempat mengalami kebosanan dalam menerima materi yang diberikan dari
fasilitator. Teori itu memang dengan sangat mudah dapat dihafalkan, mulai dari
“Be Proaktif, Begin with the End in Mind, Put the First Thing First, Thing
Win-win, Seek to Understood and then to be Understand, Sinergis, hingga
Sharpened the Saw”. Namun ternyata aplikasinya tak semudah bagi kita untuk
mengingat kata-katanya.
1.
Be Proaktif
Poin ini mengajarkan
kepada kita untuk dapat menerima suatu keadaan tanpa mengeluarkan suatu bentuk
keluhan apapun dan memberikan aksi atau tindakan positif terhadap keadaan
tersebut. Saya berpikir bahwa dalam hidup saya, saya harus selalu mengingat “be
proaktif” ini. Sifat saya yang cenderung suka mengeluh bahkan tak jarang
menyalahkan keadaan tertentu ketika terjadi suatu masalah, itu akan menjadi
suatu masalah baru yang nantinya saya yakin akan merugikan diri saya sendiri.
Menjadi seseorang yang sadar dan mengerti akan “be proaktif” memang tidak mudah
dalam prosesnya untuk menuju hal itu. Dibutuhkan adanya latihan dan kemauan
untuk membiasakan diri dalam menerapkan poin tersebut dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam kegiatan kuliah baru-baru ini, saya merasa beberapa masalah
datang beruntun pada saya, salah satunya adalah masalah akademik, yang saya
pikir tak hanya saya yang mengalami masalah tersebut. Salah satu contoh
kasusnya adalah saya menerima nilai kuis dari salah satu mata kuliah dan baru
pertama kali itu saya mendapat nilai yang sangat menyedihkan, yakni 30. Nilai
itu memang menjadi tekanan batin yang sangat berat bagi saya. Namun, tidak pantas
rasanya apabila ilmu yang sudah saya dapatkan dalam pelatihan 7 habits ini
tidak saya aplikasikan. Memang awalnya saya kecewa tetapi saya merasa bahwa
kekecewaan itu tidak boleh berlarut-larut. Saya harus segera kembali ke dalam
diri saya dan secepat mungkin menemukan solusi yang tepat bagi masalah itu.
Yang ada dalam pikiran saya adalah mungkin ini memang bentuk awal dari perjalanan
saya yang justru memberikan peluang bagi saya untuk melakukan intropeksi diri
agar menuju hasil terbaik. Saya memang masih merasa tidak bisa memanage waktu dengan baik sehingga saya
dituntut agar bisa menjadi pengatur waktu yang baik. Tak hanya itu, saya pun
berpikir mungkin saja ada sedikit kekeliruan dalam belajar saya sehingga
solusinya adalah saya harus bisa segera menemukan metode belajar yang lebih
efektif dan efisien. Dengan “be proaktif”, saya yakin akan menjadi pribadi yang
lebih bijaksana dan saya akan terus melatih diri saya dengan membiasakan diri
untuk selalu menerapkan prinsip ini dalam menghadapi suatu masalah sehari-hari.
2.
Begin with the End in Mind
Tak cukup hanya menjadi
seorang yang proaktif saja. Habit
selanjutnya adalah kita harus
membiasakan diri untuk selalu memikirkan tujuan apa yang ingin kita capai. Agar
terbentuk suatu langkah yang yakin dan benar, mulanya kita diharuskan untuk
memiliki sebuah tujuan. Tak mungkin kita tahu akan melangkah kemana apabila
dalam hidup ini kita tidak memiliki tujuan apapun. Inti dari semua pernyataan
itu, mulailah semua langkah dalam kehidupan ini dengan memikirkan apa sebenarnya
tujuan akhir kita. Jadi, dengan otomatis langkah kita pun akan terarah dan
tertuju pada sebuah titik mimpi yang kita harapkan. Contoh kasus yang pernah
saya alami dalam hal ini adalah ketika saya gagal untuk mengikuti olimpiade
sains mewakili sekolah saya hanya di tingkat kabupaten/kota. Sangat menyesal
ketika saya harus melewatkan kesempatan yang seharusnya bisa saya dapatkan
untuk mengukir prestasi di SMA. Pada waktu itu diadakan seleksi olimpiade sains
tingkat sekolah dan sudah pasti saya semangat mengikuti kegiatan itu. Di akhir
cerita, saya sempat kaget, menyesal, dan cukup kecewa ketika tahu bahwa ternyata
saya tidak berhasil lolos seleksi itu. Saya merasa bahwa saat itu kesempatan
saya telah tertutup untuk bisa mengikuti suatu kompetisi mewakili SMAku. Namun
akhirnya saya menyadari suatu kekurangan yang menyebabkan saya kalah pada waktu
itu. Meskipun saya merasa ingin dan mau untuk lolos seleksi, sebenarnya saya
tidak memvisualisasikan tujuanku itu dalam benak dan pikiran saya. Hal itu
menyebabkan kekuatan pikiran saya tidak terlalu kuat sehingga akhirnya
terbentuklah langkah-langkah yang seharusnya tidak saya ambil. Keadaan itu
akhirnya menjadi pengalaman dan pelajaran dalam kehidupanku agar selalu menjadi
orang yang “begin with the end in mind”.
3.
Put the First Thing First
Satu kata mudah untuk
mewakili poin di atas adalah prioritas. Dalam hidup ini, kita harus memiliki sebuah
prioritas, apalagi ketika kita barada dalam suatu keadaan yang menuntut kita
untuk memilih. Prioritas adalah hal mana yang kita anggap lebih dulu penting
untuk dipenuhi atau dikerjakan, maka pilihlah hal itu. Sebagai seorang yang
aktif, mahasiswa haruslah bisa menentukan suatu prioritas karena tentu kita
akan dihadapkan pada keadaan-keadaan yang mengharuskan kita untuk menomor
duakan sesuatu. Dalam hal ini, kita harus bisa menganalisis kebutuhan kita
sendiri, pilihan mana yang kira-kira lebih penting bagi kita. Apabila kita
terbiasa menjalankan poin ini, maka saya yakin bahwa tak akan menjadi mustahil
kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam menentukan sikap dan pastinya
bertanggung jawab dalam setiap pilihan yang diambil.
4.
Thing Win-win
Setelah berkutat kepada
diri sendiri dalam tiga poin, yaitu be proaktif, begin with the end in mind,
dan put the first thing thing, akhirnya dalam poin ini kita akan melibatkan
orang lain untuk membentuk kebiasaan baik kita. Thing win-win mengajarkan kita
agar tidak hanya memikirkan kemenangan diri sendiri tetapi juga merangkul orang
lain untuk menang. Tentunya tidak ada kata egois agar prinsip ini dapat
berjalan. Di sini kita lebih banyak dituntut untuk mau peduli terhadap orang
lain. Namun bukan berarti ketika kita memberikan kemenangan untuk orang lain,
maka kita harus membiarkan diri kita kalah. Prinsip ini akan berlaku apabila
tak hanya saya ataupun orang lain yang menang tetapi saya dan orang lainlah
yang sama-sama menjadi seorang pemenang. Bagi saya, poin ini sangat sulit untuk
dibiasakan karena tak hanya saya harus mengatur diri sendiri tetapi saya pun
harus mau dan bisa membuat orang lain berbagi kemenangan dengan saya. Apabila
prinsip ini terbiasakan dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin akan menjadi sosok
yang lebih peduli dan tidak egois.
5.
Seek to Understood and then to be
Understand
Jika kamu mau
didengarkan, maka dengarkan orang lain. Jika kamu mau dihormati, maka
hormatilah orang lain dan jika kamu mau dipahami, maka pahamilah orang lain.
Semua hal itu memanglah sebuah hukum alam, ketika kita melakukan suatu aksi,
maka timbullah suatu reaksi yang pastinya tergantung dari aksi kita. Prinsip
ini mengajarkan saya untuk mau berusaha melakukan sesuatu ketika saya
menginginkan sesuatu itu. Contoh kasus sederhananya adalah ketika saya
menginginkan kamarku bersih, maka saya harus mau membersihkannya. Prinsip ini
sebenarnya tak bisa kita lakukan untuk diri kita sendiri, melainkan pasti akan
melibatkan orang lain agar manfaat prinsip ini bisa kita dapatkan. “Pahamilah,
baru kemudian kamu dipahami”J
6.
Sinergis
Sebenarnya tak cukup
hanya pada lima prinsip di atas, masih ada prinsip “sinergis” yang mengharuskan
kita untuk mampu bersinergi atau bekerja sama dengan banyak orang untuk
melakukan sesuatu yang produktif. Sinergi ini tak hanya berhubungan dengan satu
orang saja tetapi banyak orang sehingga kita akan terbiasa dengan “team work”.
Dengan bekerja bersama tim, akan menghasilkan suatu pekerjaan yang lebih daripada
ketika kita melakukan pekerjaan itu sendirian. Jadi sebenarnya sinergi ini
sangat penting bagi kita untuk menghasilkan sesuatu yang lebih, baik secara
kualitas maupun kuantitasnya. Saya selalu berpikir bahwa kemampuan kita untuk
bersinergi dengan orang lain atau bekerja secara tim itu sangat dibutuhkan,
apalagi nantinya ketika kita harus terjun dalam dunia pekerjaan. Oleh karena
itu, saya ingin selalu mengasah kemampuan bersinergi saya agar saya tidak
merasa kesulitan ketika kita dituntut untuk menerapkan prinsip “team work”.
7.
Sharpened the Saw
Apabila kita sudah
menerapkan keenam habits itu, kita
tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Pengembangan-pengembangan diri serta
pembaharuan harus selalu dilakukan untuk menjadi yang lebih baik. Tak ada
artinya keenam habits itu jika tidak selalu diasah agar menuju kebiasaan yang
mendekati sempurna, jadi prinsip “sharpened the saw” juga penting bagi
kelangsungan keberhasilan pembentukkan kepribadian ini.
Saya tahu, tidak cukup
hanya satu bulan untuk membiasakan diri dalam melaksanakan 7 habits tersebut. Sedikit
demi sedikit dan dengan pasti saya akan selalu berusaha menerapkan
prinsip-prinsip yang sudah saya dapatkan di pelatihan 7 habits. Saya mengakui
bahwa semua itu membutuhkan proses dan haruslah dengan kemauan dan tekad yang
kuat agar nantinya pelatihan ini dapat memberikan manfaat dalam kehidupan kita.
Apabila kebiasaan-kebiasaan baik tersebut sudah melekat dalam diri kita, sudah
pasti dan tentu 3 nilai inti ITB dapat dicapai dengan mudah, yaitu integritas,
prestasi, dan komitmen. Integritas akan dengan sendirinya muncul dalam diri
seorang mahasiswa ITB apabila kita sudah terbiasa dalam mengatasi diri sendiri,
orang lain, dan orang banyak. Karakter integritas itu tanpa disadari akan
menjadi milik kita. Tak hanya integritas, prestasi pun akan mudah dicapai
ketika segala penyokongnya, yaitu 7 habits itu sudah mampu ditaklukkan. Saya
berpikir, prestasi akan menjadi nilai yang paling mudah dicapai dalam hal ini.
Nilai inti selanjutnya adalah komitmen. Setelah menerapkan seluruh nilai 7 habits, sudah pasti kita bisa memanage diri sendiri, bahkan orang lain.
Jadi akan menjadi hal yang mudah bagi seorang mahasiswa untuk berkomitmen
apalagi komitmen dalam hal kemajuan tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi orang
lain, hingga bangsa, bahkan almamater.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar