Jumat, 07 Oktober 2011

7-Habits



Akan menjadi sesuatu yang tak mudah ketika saya dituntut untuk bertransformasi menjadi diri saya yang baru. Salah satu masa hidupku saat ini, suatu bentuk perubahan diri, yaitu masa transisi dari seorang siswa menjadi sebuah nama besar yang memanggul tanggung jawab besar pula, seorang mahasiswa. Masa ini bukanlah masa yang mudah dan enteng. Mulai dari mengubah pola pikir, mengoreksi cara pandang, dan mungkin saja hingga membenahi kebiasaan, menjadi pr dan tugas yang terbenam dalam otakku. Pola pikirku yang tak ada kata dewasa sama sekali dalam kedudukannya haruslah kugeser tingkatannya sehingga menuju pola pikir fase dewasa. Tak hanya sebatas pola pikir, sama halnya untuk menjadi sebuah pribadi yang lebih agung, cara pandang haruslah ditata dan tentunya diatur dengan tatanan yang rapi. Pembenahan kebiasaan pun akan memudahkan kita untuk melangkah maju dan terus maju ke depan karena kebiasaan yang baik akan membentuk suatu kepribadian yang baik pula, terutama dalam persiapan bagi sebuah harapan bangsa, seorang mahasiswa.
Tak bisa dielakkan bahwa mimpi dan angan masyarakat suatu negara digantungkan pada bangsa mudanya, terutama para mahasiswanya. Hal itu memanglah masih mendiam dalam pikiranku, sanggupkah aku nantinya menjadi suatu guna bagi bangsaku sendiri. Memanggul angan dan cita yang besar milik bangsa, sulit tak terkira tentunya. Untuk menempatkan diri sendiri pada suatu mimpi pun dibutuhkan suatu kerja keras serta pengorbanan di setiap kaki melangkah, apalagi untuk menuju suatu mimpi besar bangsa pasti dituntut agar kita dapat melakukan suatu kerja atau usaha melebihi untuk kepentingan keberhasilan diri pribadi. Memang tak mudah, bahkan jelas sangat sulit untuk menjalani setiap proses itu. Namun seluruh agen pendidikan pasti berusaha untuk mempersiapkan segala hal itu, salah satunya adalah kampus tercinta, Institut Teknologi Bandung.
Dalam rangkaian program penerimaan mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung tahun 2011 ini terdapat program yang dinamakan “Pelatihan 7 Habits”. Kegiatan ini adalah tahun pertama kali diselenggarakan di ITB dalam rangkaian program penerimaan mahasiswa baru. Dalam hal ini, ITB bertujuan agar para mahasiswanya tak hanya cerdas dalam akademiknya tetapi juga unggul dalam segala bentuk kepribadiannya dengan cara mengasah kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan dalam “Pelatihan 7 Habits” ini. Inilah cerita saya setelah dua hari mengikuti kegiatan “Pelatihan 7 Habits”.
Pertama kali mendengar bahwa pada tahun ini ITB akan mengadakan program “Pelatihan 7 Habits”, saya sangat tertarik. Saya berpikir kegiatan tersebut pasti akan sangat bermanfaat, khususnya bagi kami, para mahasiswa baru, yang belum mengerti apapun mengenai pengalaman kehidupan kampus. Selama mengikuti kegiatan pelatihan, jujur saja saya sempat mengalami kebosanan dalam menerima materi yang diberikan dari fasilitator. Teori itu memang dengan sangat mudah dapat dihafalkan, mulai dari “Be Proaktif, Begin with the End in Mind, Put the First Thing First, Thing Win-win, Seek to Understood and then to be Understand, Sinergis, hingga Sharpened the Saw”. Namun ternyata aplikasinya tak semudah bagi kita untuk mengingat kata-katanya.
1.        Be Proaktif
Poin ini mengajarkan kepada kita untuk dapat menerima suatu keadaan tanpa mengeluarkan suatu bentuk keluhan apapun dan memberikan aksi atau tindakan positif terhadap keadaan tersebut. Saya berpikir bahwa dalam hidup saya, saya harus selalu mengingat “be proaktif” ini. Sifat saya yang cenderung suka mengeluh bahkan tak jarang menyalahkan keadaan tertentu ketika terjadi suatu masalah, itu akan menjadi suatu masalah baru yang nantinya saya yakin akan merugikan diri saya sendiri. Menjadi seseorang yang sadar dan mengerti akan “be proaktif” memang tidak mudah dalam prosesnya untuk menuju hal itu. Dibutuhkan adanya latihan dan kemauan untuk membiasakan diri dalam menerapkan poin tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan kuliah baru-baru ini, saya merasa beberapa masalah datang beruntun pada saya, salah satunya adalah masalah akademik, yang saya pikir tak hanya saya yang mengalami masalah tersebut. Salah satu contoh kasusnya adalah saya menerima nilai kuis dari salah satu mata kuliah dan baru pertama kali itu saya mendapat nilai yang sangat menyedihkan, yakni 30. Nilai itu memang menjadi tekanan batin yang sangat berat bagi saya. Namun, tidak pantas rasanya apabila ilmu yang sudah saya dapatkan dalam pelatihan 7 habits ini tidak saya aplikasikan. Memang awalnya saya kecewa tetapi saya merasa bahwa kekecewaan itu tidak boleh berlarut-larut. Saya harus segera kembali ke dalam diri saya dan secepat mungkin menemukan solusi yang tepat bagi masalah itu. Yang ada dalam pikiran saya adalah mungkin ini memang bentuk awal dari perjalanan saya yang justru memberikan peluang bagi saya untuk melakukan intropeksi diri agar menuju hasil terbaik. Saya memang masih merasa tidak bisa memanage waktu dengan baik sehingga saya dituntut agar bisa menjadi pengatur waktu yang baik. Tak hanya itu, saya pun berpikir mungkin saja ada sedikit kekeliruan dalam belajar saya sehingga solusinya adalah saya harus bisa segera menemukan metode belajar yang lebih efektif dan efisien. Dengan “be proaktif”, saya yakin akan menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan saya akan terus melatih diri saya dengan membiasakan diri untuk selalu menerapkan prinsip ini dalam menghadapi suatu masalah sehari-hari.
2.        Begin with the End in Mind
Tak cukup hanya menjadi seorang yang proaktif saja. Habit selanjutnya adalah kita  harus membiasakan diri untuk selalu memikirkan tujuan apa yang ingin kita capai. Agar terbentuk suatu langkah yang yakin dan benar, mulanya kita diharuskan untuk memiliki sebuah tujuan. Tak mungkin kita tahu akan melangkah kemana apabila dalam hidup ini kita tidak memiliki tujuan apapun. Inti dari semua pernyataan itu, mulailah semua langkah dalam kehidupan ini dengan memikirkan apa sebenarnya tujuan akhir kita. Jadi, dengan otomatis langkah kita pun akan terarah dan tertuju pada sebuah titik mimpi yang kita harapkan. Contoh kasus yang pernah saya alami dalam hal ini adalah ketika saya gagal untuk mengikuti olimpiade sains mewakili sekolah saya hanya di tingkat kabupaten/kota. Sangat menyesal ketika saya harus melewatkan kesempatan yang seharusnya bisa saya dapatkan untuk mengukir prestasi di SMA. Pada waktu itu diadakan seleksi olimpiade sains tingkat sekolah dan sudah pasti saya semangat mengikuti kegiatan itu. Di akhir cerita, saya sempat kaget, menyesal, dan cukup kecewa ketika tahu bahwa ternyata saya tidak berhasil lolos seleksi itu. Saya merasa bahwa saat itu kesempatan saya telah tertutup untuk bisa mengikuti suatu kompetisi mewakili SMAku. Namun akhirnya saya menyadari suatu kekurangan yang menyebabkan saya kalah pada waktu itu. Meskipun saya merasa ingin dan mau untuk lolos seleksi, sebenarnya saya tidak memvisualisasikan tujuanku itu dalam benak dan pikiran saya. Hal itu menyebabkan kekuatan pikiran saya tidak terlalu kuat sehingga akhirnya terbentuklah langkah-langkah yang seharusnya tidak saya ambil. Keadaan itu akhirnya menjadi pengalaman dan pelajaran dalam kehidupanku agar selalu menjadi orang yang “begin with the end in mind”.
3.        Put the First Thing First
Satu kata mudah untuk mewakili poin di atas adalah prioritas. Dalam hidup ini, kita harus memiliki sebuah prioritas, apalagi ketika kita barada dalam suatu keadaan yang menuntut kita untuk memilih. Prioritas adalah hal mana yang kita anggap lebih dulu penting untuk dipenuhi atau dikerjakan, maka pilihlah hal itu. Sebagai seorang yang aktif, mahasiswa haruslah bisa menentukan suatu prioritas karena tentu kita akan dihadapkan pada keadaan-keadaan yang mengharuskan kita untuk menomor duakan sesuatu. Dalam hal ini, kita harus bisa menganalisis kebutuhan kita sendiri, pilihan mana yang kira-kira lebih penting bagi kita. Apabila kita terbiasa menjalankan poin ini, maka saya yakin bahwa tak akan menjadi mustahil kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam menentukan sikap dan pastinya bertanggung jawab dalam setiap pilihan yang diambil.
4.        Thing Win-win
Setelah berkutat kepada diri sendiri dalam tiga poin, yaitu be proaktif, begin with the end in mind, dan put the first thing thing, akhirnya dalam poin ini kita akan melibatkan orang lain untuk membentuk kebiasaan baik kita. Thing win-win mengajarkan kita agar tidak hanya memikirkan kemenangan diri sendiri tetapi juga merangkul orang lain untuk menang. Tentunya tidak ada kata egois agar prinsip ini dapat berjalan. Di sini kita lebih banyak dituntut untuk mau peduli terhadap orang lain. Namun bukan berarti ketika kita memberikan kemenangan untuk orang lain, maka kita harus membiarkan diri kita kalah. Prinsip ini akan berlaku apabila tak hanya saya ataupun orang lain yang menang tetapi saya dan orang lainlah yang sama-sama menjadi seorang pemenang. Bagi saya, poin ini sangat sulit untuk dibiasakan karena tak hanya saya harus mengatur diri sendiri tetapi saya pun harus mau dan bisa membuat orang lain berbagi kemenangan dengan saya. Apabila prinsip ini terbiasakan dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin akan menjadi sosok yang lebih peduli dan tidak egois.
5.        Seek to Understood and then to be Understand
Jika kamu mau didengarkan, maka dengarkan orang lain. Jika kamu mau dihormati, maka hormatilah orang lain dan jika kamu mau dipahami, maka pahamilah orang lain. Semua hal itu memanglah sebuah hukum alam, ketika kita melakukan suatu aksi, maka timbullah suatu reaksi yang pastinya tergantung dari aksi kita. Prinsip ini mengajarkan saya untuk mau berusaha melakukan sesuatu ketika saya menginginkan sesuatu itu. Contoh kasus sederhananya adalah ketika saya menginginkan kamarku bersih, maka saya harus mau membersihkannya. Prinsip ini sebenarnya tak bisa kita lakukan untuk diri kita sendiri, melainkan pasti akan melibatkan orang lain agar manfaat prinsip ini bisa kita dapatkan. “Pahamilah, baru kemudian kamu dipahami”J
6.        Sinergis
Sebenarnya tak cukup hanya pada lima prinsip di atas, masih ada prinsip “sinergis” yang mengharuskan kita untuk mampu bersinergi atau bekerja sama dengan banyak orang untuk melakukan sesuatu yang produktif. Sinergi ini tak hanya berhubungan dengan satu orang saja tetapi banyak orang sehingga kita akan terbiasa dengan “team work”. Dengan bekerja bersama tim, akan menghasilkan suatu pekerjaan yang lebih daripada ketika kita melakukan pekerjaan itu sendirian. Jadi sebenarnya sinergi ini sangat penting bagi kita untuk menghasilkan sesuatu yang lebih, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Saya selalu berpikir bahwa kemampuan kita untuk bersinergi dengan orang lain atau bekerja secara tim itu sangat dibutuhkan, apalagi nantinya ketika kita harus terjun dalam dunia pekerjaan. Oleh karena itu, saya ingin selalu mengasah kemampuan bersinergi saya agar saya tidak merasa kesulitan ketika kita dituntut untuk menerapkan prinsip “team work”.
7.        Sharpened the Saw
Apabila kita sudah menerapkan keenam habits itu, kita tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Pengembangan-pengembangan diri serta pembaharuan harus selalu dilakukan untuk menjadi yang lebih baik. Tak ada artinya keenam habits itu jika tidak selalu diasah agar menuju kebiasaan yang mendekati sempurna, jadi prinsip “sharpened the saw” juga penting bagi kelangsungan keberhasilan pembentukkan kepribadian ini.
Saya tahu, tidak cukup hanya satu bulan untuk membiasakan diri dalam melaksanakan 7 habits tersebut. Sedikit demi sedikit dan dengan pasti saya akan selalu berusaha menerapkan prinsip-prinsip yang sudah saya dapatkan di pelatihan 7 habits. Saya mengakui bahwa semua itu membutuhkan proses dan haruslah dengan kemauan dan tekad yang kuat agar nantinya pelatihan ini dapat memberikan manfaat dalam kehidupan kita. Apabila kebiasaan-kebiasaan baik tersebut sudah melekat dalam diri kita, sudah pasti dan tentu 3 nilai inti ITB dapat dicapai dengan mudah, yaitu integritas, prestasi, dan komitmen. Integritas akan dengan sendirinya muncul dalam diri seorang mahasiswa ITB apabila kita sudah terbiasa dalam mengatasi diri sendiri, orang lain, dan orang banyak. Karakter integritas itu tanpa disadari akan menjadi milik kita. Tak hanya integritas, prestasi pun akan mudah dicapai ketika segala penyokongnya, yaitu 7 habits itu sudah mampu ditaklukkan. Saya berpikir, prestasi akan menjadi nilai yang paling mudah dicapai dalam hal ini. Nilai inti selanjutnya adalah komitmen. Setelah menerapkan seluruh  nilai 7 habits, sudah pasti kita bisa memanage diri sendiri, bahkan orang lain. Jadi akan menjadi hal yang mudah bagi seorang mahasiswa untuk berkomitmen apalagi komitmen dalam hal kemajuan tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi orang lain, hingga bangsa, bahkan almamater.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar