Senin, 02 Mei 2011

Saudaraku Oh Saudaraku....

Kawan, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan sedikit unek-unek saya, yang insya Allah dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

“Kamu tu dibilangin kok susah banget. Kalo aku lagi ngomong didengerin,” bentak seorang kakak kepada adiknya.

Saya yakin, hal seperti itu bukanlah suatu perbuatan yang asing bagi kita. Bahkan, mungkin sebagian dari kita pun pernah melakukan hal serupa itu. Yep, bertengkar dengan saudara kita sendiri, entah itu kakak ataupun adik. Sudah menjadi hal yang biasa bagi kita jika terjadi pertengkaran antara saudara. Alasannya pun macam-macam. Mulai dari berselisih paham, beda pendapat, hingga merebutkan suatu hal yang ringan sekalipun. Anehnya, yang mungkin jarang kita pikirkan adalah mengapa keributan dengan saudara kita sendiri jauh lebih sering kita alami daripada bertengkar ataupun ribut dengan teman. Kita senantiasa berjuang keras agar pertemanan kita selalu berjalan dengan baik, menjaga agar tak ada emosi yang meletup dari setiap teman. Lantas bagaimana dengan saudara kita? Persaudaraan yang seharusnya memancarkan perdamaian dan kenyamanan, seringkali kita korbankan demi pertemanan itu sendiri. “Males ah di rumah, mending keluar sama temen-temen,” mungkin itulah kata yang akan keluar dari mulut kita jika diperintah orang tua untuk menjaga rumah dan adik-adik kita. Tak ingatkah kita berapa lama waktu yang kita berikan untuk keluarga, terutama saudara-saudara kita. Sekolah dari pagi sampai siang, pulang hanya sebentar dan langsung berangkat untuk les hingga sore. Belum lagi jalan-jalan sama teman, pulang ke rumah hingga malam hari. Tak ada waktu sedikitpun untuk mereka. Bahkan untuk menanyakan kabarnya hari itu. Sekalinya ngobrol, belum ada satu menit langsung ribut. Yah begitulah hidup dengan segala rutinitas yang mungkin akan mengubah kita menjadi sosok manusia yang kejam dan tak punya perasaan.

Sangat bodoh jika kita tidak memanfaatkan kesempatan dan nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan untuk kita. Allah mengirimkan saudara bagi kita untuk bisa saling berbagi, saling menyayangi dan mengasihi. Mungkin untuk saat ini kita tidak akan terlalu memikirkan hal itu. Belum muncul dalam benak kita untuk menyadari keberadaan dan peran seorang kakak ataupun adik untuk kita. Mungkin keberadaannya bisa saja kita gantikan dengan siapapun teman kita. Namun, akan lain lagi apabila masa itu tiba. Ketika suatu saat Allah menjatuhkan putusannya untuk mengambil saudara-saudara kita satu per satu. Ya, kematian. Kematian yang akan merenggut keberadaannya di dunia ini, yang akan menyingkirkan peran-perannya sebagai saudara kita. Kematian itu akan indah apabila kedamaian dan kasih sayang mengiringi kepergiannya. Namun, bagaimana apabila ia meninggal sebelum kita sempat meminta maaf kepadanya, sebelum kita menjabat erat tangannya, sebelum kita memeluk tubuhnya yang hangat, dan mengecup pipinya dengan lembut, dan hanya sejuta keributan dan masalah yang kita bebankan kepadanya. Penyesalan pun menggunung dan takkan berarti sedikitpun ketika kita hanya bisa menyaksikan tubuhnya tak berdaya terbalut kain kafan dan hanya bisa mengecup keningnya yang dingin, memeluk tubuhnya yang tak hangat lagi melainkan beku, menatap wajahnya yang penuh dengan gurat kesedihan. Kata maaf dan sayang yang kita keluarkan pun takkan terbalas apapun dari mulutnya yang sudah kaku. “Ya Allah, ampunilah hambaMu yang jahat dan kejam ini. Karena semua kesombonganku, saudarakulah yang menjadi korban. Tak seharusnya ia menderita dan menanggung semua beban itu. Limpahan sayanglah yang seharusnya ia terima dariku. Bodohnya aku telah menyia-nyiakan semua karuniaMu ya Allah.”

Saya tahu, tak ada seorang pun yang menginginkan penyesalan sedalam itu. Penyesalan itu tak boleh menghampiri kita sejengkal pun. Karena saya yakin, setelah merenung dan menyadari segala kekurangan dan kesalahan yang pernah kita lakukan, kita akan menjadi seorang manusia yang lebih baik dan menjadi seorang manusia yang bijak dan penuh kasih sayang, tidak hanya untuk semua teman dan sahabat, tetapi juga keluarga, termasuk saudara-saudara kita. Amin.

Selama Allah masih memberikan kesempatan untuk kita, marilah senantiasa berjuang untuk menebar benih kebaikan dan kasih sayang untuk semua umat manusia, tak terkecuali untuk saudara-saudara kita. Semoga Allah selalu melimpahkan ridhoNya bagi kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar