Blog ini kujejali dengan segala macam tulisan yang memang merupakan karyaku. Sebenarnya tak hanya tentang aku, tentang apapun mungkin saja bisa ter-list dalam blog ini.
Jumat, 07 Oktober 2011
Manusia Tanpa Cela
Ibu,
Engkau adalah wanita yang dimuliakan Allah,
wanita yang ditakdirkan untuk banyak hal.
Engkau sungguh manusia tanpa cela, Ibu.
Hadirku sebagai alasan akan hadirmu.
Tawamu sebagai simbol akan kebahagiaanku.
Tangismu sebagai simbol akan kesedihanku.
Do'amu sebagai wujud kasih sayangmu padaku.
Ibu,
kau relakan tubuhmu menerima sakit demi kelahiranku ke dunia.
kau lupakan rasa takutmu akan kematian demi keselamatanku.
kau berikan banyak pengorbanan untuk kebahagiaanku.
Namun, apa yang kau dapatkan Ibu?
Hanya kenakalan-kenakalan yang selalu kuberikan kepadamu.
Tak pernah kuingat akan pengorbanan jiwa dan ragamu yang kau persembahkan untukku.
Tak pernah kuberikan kasih sayang ini sepenuhnya untukmu Ibu.
Namun, tak pernah kau berikan secuil pun kebencian padaku.
Hanya kesabaran yang menjadi modalmu untuk mendidikku.
Tak pernah kau pinta balas akan kasih sayangmu padaku.
Ibu,
Aku adalah anak yang berdosa.
Aku adalah anak yang cela.
Anak yang tak tahu akan terima kasih.
Ibu,
Sungguh takkan pernah bosan tuk pinta maaf darimu.
Agar aku dapat menggapai surga di telapak kakimu.
Khayalan Mimpi
Hening malam kurasa.
Detik waktu mengiringi langkah sang rembulan.
Pikirku berkelana mencari suatu cita.
Suatu cita yang akan menyelamatkanku dari keterpurukan.
Khayal mengisi benakku.
Membentangkan suatu gambaran akan masa depan.
Hatiku merintih kelu,
akan jadi apa aku kelak,
akan seperti apa aku kelak.
Dengan bekal kekosongan,
harus kulampaui,
harus kurenggut masa depan.
Masa depan yang selalu mencoba menjauh dariku.
Ku kan kejar, ku kan berlari dan berlari.
Menggapai mimpi dan cita.
---------------------------------
Rabu, 05 Oktober 2011
Cinta Buta
Hehe,, alasannya adalah agar orang2 yang membaca cerita ini, setelahnya tidak berpikir buruk mengenai saya, hidup saya, maupun prinsip saya. Check it out.
------------------------
Hidup dalam tumpukan segala rutinitas, itulah aku, Indah Shantika. Terjun dalam sebuah pekerjaan sebagai seorang karyawan suatu perusahaan swasta di Jakarta. Tak ada beberapa atau bahkan suatu hal yang istimewa dalam hidupku. Aku adalah seorang wanita biasa yang bukan berasal dari keluarga luar biasa. Pendidikanku cukup dengan bertitelkan sarjana di belakang namaku, sama halnya dengan kebanyakan kaum wanita di negeri ini. Ya, akulah tipe wanita yang sangat mudah ditemukan di kota Jakarta. Tubuh dan wajahku tak selayaknya model yang selalu dielu-elukan parasnya. Namun, aku bukanlah wanita rendah diri yang malu untuk keluar rumah dan selalu menutup diri dari pergaulan dengan masyarakat. Ya, itu semua karena aku adalah wanita biasa. Segala sesuatu dalam hidupku adalah hal yang sangat biasa.
Di kota metropolitan ini, aku tinggal dan berteduh dalam sebuah rumah sewa kecil tanpa siapapun. Sebagai seorang perantau, aku pun sendiri di kota ini. Aku telah menentukan jalan hidupku dengan meninggalkan seluruh keluargaku di sebuah kota kecil, tempat aku dilahirkan. Aku memang bertekad untuk meraih semua mimpiku di kota ini. Mimpi yang sudah mulai kujajaki meskipun harus dengan langkah demi langkah.
Pagi ini aku pun akan menjalani aktivitas rutinku, berkantor. Seperti biasa, berangkat ke kantor, aku selalu bersama dengan Desti. Sebagai makhluk sosial, aku pun takkan bisa menjalani hidupku sendiri tanpa orang lain. Destilah orang lain itu. Seseorang yang rela menjadi teman hidupku dalam perantauanku ini. Ia pun sama denganku, wanita biasa yang memang sengaja datang ke Jakarta untuk memperbaiki nasibnya. Setiap hari aku menjalani hidupku dengannya. Mengapa tidak? Ia bekerja di kantor yang sama denganku. Tak mungkin aku berangkat dan pulang kantor tanpa bersamanya. Memang, hidup ini takkan indah tanpa ada seseorang di samping kita. Suatu saat, terkadang aku pun mengucap syukur karena kebaikan Tuhan yang sudah mengirimkan Desti untukku.
“Ndah, bentar lagi kan tahun baru, elu ada rencana balik kampung?” tanya Desti serius kepadaku.
Berbagai hiasan tahun baru di mall ini pasti mengingatkan Desti akan tahun baru yang dalam hitungan hari akan dirayakan oleh manusia di seluruh dunia. Aku sadar, begitu lama aku tak melihat seluruh keluargaku. Tak pernah tersempatkan olehku untuk mengunjungi mereka. Entah mengapa, tapi aku mulai merasa bahwa rutinitas ini mulai membelengguku.
Suatu siang di kantor, aku beserta rekan-rekanku sedang asyik berbincang membicarakan sesuatu. Tawa dan cekikikan dari semuanya mengiringi obrolan kami.
“Denger2, Desti bentar lagi mau married, bener nggak Ndah?” tanya seorang rekanku.
Mendengar tanyanya, tiba-tiba saja aku merasa aneh. Kesal dan entah apa aku tak bisa mengerti. Selama ini aku mengetahui, Desti tak pernah menyembunyikan apapun dariku. Jangankan mau menikah, aku pun tak pernah tahu bahwa selama ini Desti memiliki pacar.
Sore ini, seperti biasa aku pulang kantor bersama Desti. Mungkin inilah saat yang tepat mengungkapkan rasa penasaranku padanya.
“Des, jujur ya sama gue, elu mau married? Kok nggak pernah cerita sama gue, kalo selama ini elu udah punya cowo?” tanyaku mencoba untuk meredam emosi, tapi aku yakin usahaku itu tak berhasil. Aku mendengar suaraku yang begitu marah dan kecewa pada sahabatku.
“Kok elu udah tau Ndah. Gue kan belum cerita apapun ke elu. Sebenernya,,,,” jawabnya tak terdengar lagi olehku karena hatiku sudah terlanjur sakit dan aku pun lari menjauhinya.
Hari demi hari setelah kejadian itu, aku lalui sendiri tanpanya. Beratus kali Desti mencoba menelponku, mengirim sms dengan segala kata maafnya untukku. Namun, beratus kali pula aku mencampakkan panggilannya dan mengabaikan permohonan maafnya. Aku terlanjur marah padanya. Aku pun terkadang berpikir mengapa begitu sulit aku memaafkannya. Namun, setelah lama aku merenunginya, sebenarnya hati ini tak pernah membencinya, bahkan marah kepadanya. Aku yakin bahwa aku hanya kecewa padanya, kecewa yang begitu dalam sehingga aku sulit merelakannya.
“Ndah, tolong maafin gue. Jujur gue nggak ngerti kenapa elu bisa semarah ini sama gue?” tanya Desti seketika menemukanku di taman sedang duduk sendiri. Aku tak mungkin lagi menghindar darinya. Dengan mata penuh air mata yang sebentar lagi akan mengucur melewati pipinya, Desti memohon maaf padaku. Aku menatap dalam matanya, memandang wajahnya yang begitu teduh. Diam-diam selama ini, aku mengagumi paras cantiknya, baik tingkahnya. Aku pun semakin yakin dengan segala perasaanku ini.
“Gue bener2 minta maaf Ndah,” sebelum Desti menyelesaikan kalimatnya, aku menutup bibirnya dengan telunjukku. Aku pun bertekad untuk menyampaikan semuanya.
“Elu nggak salah Des, sebenarnya ini semua salah gue. Gue baru sadar kalo selama ini, gue suka sama elu. Gue cinta sama elu. Ini semua salah gue Des. Gue minta maaf,” tangis mulai pecah dari mulutku. Kulihat begitu terkejut wajah Desti. Desti pun pergi meninggalkanku sendiri tenggelam dalam air mata penyesalanku.
Selasa, 17 Mei 2011
Kuasa Emosi
Suatu pekerjaan yang aku yakin tak satupun orang menyukainya. Yep menunggu. Menunggu waktu, menunggu kedatangan seorang teman, entah apapun itu, pasti membuat hati setiap orang kesal. Saat inilah, aku harus melalui perasaan itu. Hari ini, pada jam ini, Rena, temanku sudah janji untuk datang ke sebuah acara bersamaku.
SUDAH SIAP BELUM?, tulisku dalam layar pesan singkat dan mengirimnya ke nomor temanku.
Perasaan sebel dan bongko perlahan membuncah dan berkecamuk dalam dada ketika lama aku menunggu balasan sms darinya. Detik demi detik dan menit demi menit pun berlalu. Tak ada bunyi dering apapun yang keluar dari handphoneku. Hanya irama lagu yang berasal dari radio yang tetap menemaniku dalam penantianku. Satu lagu usai dinyanyikan dan smsku pun tetap tanpa balasan. Keringat dan peluh mulai mengucur dari kening dan kuyakini itu keluar karena kuatnya aku menahan emosi. Yah, emosi ini mulai menyeruak muncul ke permukaan hatiku. Pikiran-pikiran negatif tentang temanku pun mulai mengiringi kemunculan emosi. “Pasti sengaja nggak dibales,” pikirku. Tak hanya sampai batas itu, prasangka buruk lain pun ikut memanaskan hati. “Jangan-jangan dia masih enak-enakan tidur. Dasar nggak pengertian.” Kira-kira seperti itulah ungkapan pikiranku saat ini.
GIMANA, JADI PERGI NGGAK?, mengalah aku mencoba mengirim pesan lagi untuknya.
Sms terakhir pun tak dibalasnya. Namun, aku masih bertahan hingga satu jam lebih aku masih menunggu sms balasan darinya. Aku ingin sekali membuktikan bahwa prasangka-prasangkaku padanya memang benar bahwa dia sengaja membuatku menunggu lama seperti ini. Sepi tanpa balas. “Yasudah kalau kamu memang maunya seperti itu,” simpulku di tengah emosi. “Mulai saat ini, aku nggak akan pernah mengirim sms lagi untuknya,” aku pun memutuskan.
Satu hari kejadian itu telah lewat. Namun, setiap kali aku mengingatnya, emosi pun masih bersisa terhadapnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan aku pun sudah bersiap untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah ini. Tiba-tiba dering pesan dari handphoneku berbunyi cukup mengagetkan. Tak kusangka dan mungkin tak kuharapkan, sms yang akan kubaca itu dikirimkan oleh Rena. Sms yang sedari tadi pagi aku tunggu dan sangat kunantikan akhirnya muncul juga. Dengan perasaan campur aduk, emosi setengah penasaran, aku mulai membaca pesan itu.
Q MINTA MAAF BGT FA BARU BS BLS SMS KAMU.
Sedikit gugup ketika aku mulai membaca pesan pembuka darinya.
SEJAK TADI PAGI, IBUQ MSK R.S DAN Q HRS MENEMANINYA YG SMP SKRNG MSH DI R.S. HPQ NGGAK ADA PULSA, BARU MALAM INI Q BS MENGISINYA DAN BLS SMS KAMU. TLG, JGN MARAH YA.... AKU MINTA MAAF.
Tubuhku langsung lemas membaca pesan itu. Pesan dari temanku yang aku yakin, tak mungkin ia berbohong kepadaku. Sudah begitu jahat aku menuduhnya dengan prasangka-prasangka tanpa alasan yang menyudutkannya. Kupenuhi pikiranku dengan bisikan-bisikan setan yang membawaku kepada kebencian. Aku sungguh malu pada diriku yang dengan bodoh telah melakukan kesalahan besar itu kepada temanku sendiri. Kesalahan yang seharusnya tidak aku lakukan.Dengan penuh rasa sesal atas semua salah, aku membalas smsnya dengan permintaan maaf. Aku pun berjanji kepada diriku, takkan pernah lagi aku berburuk sangka terhadap orang lain.
Senin, 02 Mei 2011
Saudaraku Oh Saudaraku....
Kawan, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan sedikit unek-unek saya, yang insya Allah dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
“Kamu tu dibilangin kok susah banget. Kalo aku lagi ngomong didengerin,” bentak seorang kakak kepada adiknya.
Saya yakin, hal seperti itu bukanlah suatu perbuatan yang asing bagi kita. Bahkan, mungkin sebagian dari kita pun pernah melakukan hal serupa itu. Yep, bertengkar dengan saudara kita sendiri, entah itu kakak ataupun adik. Sudah menjadi hal yang biasa bagi kita jika terjadi pertengkaran antara saudara. Alasannya pun macam-macam. Mulai dari berselisih paham, beda pendapat, hingga merebutkan suatu hal yang ringan sekalipun. Anehnya, yang mungkin jarang kita pikirkan adalah mengapa keributan dengan saudara kita sendiri jauh lebih sering kita alami daripada bertengkar ataupun ribut dengan teman. Kita senantiasa berjuang keras agar pertemanan kita selalu berjalan dengan baik, menjaga agar tak ada emosi yang meletup dari setiap teman. Lantas bagaimana dengan saudara kita? Persaudaraan yang seharusnya memancarkan perdamaian dan kenyamanan, seringkali kita korbankan demi pertemanan itu sendiri. “Males ah di rumah, mending keluar sama temen-temen,” mungkin itulah kata yang akan keluar dari mulut kita jika diperintah orang tua untuk menjaga rumah dan adik-adik kita. Tak ingatkah kita berapa lama waktu yang kita berikan untuk keluarga, terutama saudara-saudara kita. Sekolah dari pagi sampai siang, pulang hanya sebentar dan langsung berangkat untuk les hingga sore. Belum lagi jalan-jalan sama teman, pulang ke rumah hingga malam hari. Tak ada waktu sedikitpun untuk mereka. Bahkan untuk menanyakan kabarnya hari itu. Sekalinya ngobrol, belum ada satu menit langsung ribut. Yah begitulah hidup dengan segala rutinitas yang mungkin akan mengubah kita menjadi sosok manusia yang kejam dan tak punya perasaan.
Sangat bodoh jika kita tidak memanfaatkan kesempatan dan nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan untuk kita. Allah mengirimkan saudara bagi kita untuk bisa saling berbagi, saling menyayangi dan mengasihi. Mungkin untuk saat ini kita tidak akan terlalu memikirkan hal itu. Belum muncul dalam benak kita untuk menyadari keberadaan dan peran seorang kakak ataupun adik untuk kita. Mungkin keberadaannya bisa saja kita gantikan dengan siapapun teman kita. Namun, akan lain lagi apabila masa itu tiba. Ketika suatu saat Allah menjatuhkan putusannya untuk mengambil saudara-saudara kita satu per satu. Ya, kematian. Kematian yang akan merenggut keberadaannya di dunia ini, yang akan menyingkirkan peran-perannya sebagai saudara kita. Kematian itu akan indah apabila kedamaian dan kasih sayang mengiringi kepergiannya. Namun, bagaimana apabila ia meninggal sebelum kita sempat meminta maaf kepadanya, sebelum kita menjabat erat tangannya, sebelum kita memeluk tubuhnya yang hangat, dan mengecup pipinya dengan lembut, dan hanya sejuta keributan dan masalah yang kita bebankan kepadanya. Penyesalan pun menggunung dan takkan berarti sedikitpun ketika kita hanya bisa menyaksikan tubuhnya tak berdaya terbalut kain kafan dan hanya bisa mengecup keningnya yang dingin, memeluk tubuhnya yang tak hangat lagi melainkan beku, menatap wajahnya yang penuh dengan gurat kesedihan. Kata maaf dan sayang yang kita keluarkan pun takkan terbalas apapun dari mulutnya yang sudah kaku. “Ya Allah, ampunilah hambaMu yang jahat dan kejam ini. Karena semua kesombonganku, saudarakulah yang menjadi korban. Tak seharusnya ia menderita dan menanggung semua beban itu. Limpahan sayanglah yang seharusnya ia terima dariku. Bodohnya aku telah menyia-nyiakan semua karuniaMu ya Allah.”
Saya tahu, tak ada seorang pun yang menginginkan penyesalan sedalam itu. Penyesalan itu tak boleh menghampiri kita sejengkal pun. Karena saya yakin, setelah merenung dan menyadari segala kekurangan dan kesalahan yang pernah kita lakukan, kita akan menjadi seorang manusia yang lebih baik dan menjadi seorang manusia yang bijak dan penuh kasih sayang, tidak hanya untuk semua teman dan sahabat, tetapi juga keluarga, termasuk saudara-saudara kita. Amin.
Selama Allah masih memberikan kesempatan untuk kita, marilah senantiasa berjuang untuk menebar benih kebaikan dan kasih sayang untuk semua umat manusia, tak terkecuali untuk saudara-saudara kita. Semoga Allah selalu melimpahkan ridhoNya bagi kita semua.