Sabtu, 11 Februari 2012

Galih....


Mendungnya awan di langit biru itu tak sedikitpun memengaruhi hati Galih yang cerah saat ini. Aku sungguh mengerti perasaannya, terlihat jelas dari senyumnya di tengah lamunan, memudahkanku memahami gambaran hatinya saat ini. Namun, tiba-tiba saja rintik-rintik air hujan turun membasahi bumi dan seketika membuyarkan lamunan Galih. Melihat hal itu, aku pun tersenyum geli dan segera menutup tirai jendela yang sedari tadi kugunakan untuk mengintip Galih.

Namaku Yuliana Dewi. Seluruh temanku biasa menyingkatnya dengan Yuli. Aku tinggal dalam suatu perumahan di Jakarta. Perumahan itulah yang secara kebetulan juga dijadikan tempat tinggal oleh Galih dan keluarganya. Ya, Galih adalah tetanggaku, tetangga terdekatku. Rumahnya tak lebih dari tiga meter terpisah dengan rumahku. Galih bukanlah sekadar tetangga bagiku. Bahkan, keluarganya pun sudah keuanggap sebagai keluargaku sendiri.

Galih adalah pria yang sangat baik. Sebagai seorang anak tunggal, aku senang memiliki teman seperti Galih yang mau dan selalu bersedia menjadi kakakku. Dia memang lebih tua dariku. Namun, aku sangat nyaman berada di dekatnya, dirangkul olehnya layaknya kepada adik kesayangannya. Galih adalah segalanya untukku sehingga takkan pernah kurelakan siapapun menyakitinya.

Dering telepon kamarku sontak mengagetkanku, melepas segala bayang tentang Galih.
“Halo,” terdengar suara yang tak mungkin asing bagiku di seberang sana. Bahagia dan senang seperti biasa ketika aku mendengar suaranya, memandang wajahnya, bahkan hanya ketika menghirup aroma tubuhnya. “Nanti sore temenin gue nyari sesuatu yuk”, lanjut suara dari telepon itu. Tak lain dan tak bukan dialah Galih. Seperti biasa waktuku pun selalu rela jika harus kuhabiskan dengannya.

Sudah bertahun-tahun lamanya keluargaku mengenal keluarganya, begitu juga denganku terhadapnya. Hari-hariku 80% bersamanya dan ceritaku tak ada yang kulewatkan untuk kusampaikan padanya.Hingga sudah tak aneh lagi mengetahui segala kekurangannya dan tak takjub lagi aku mengerti kelebihannya. Yang hanya kuingin dan kutahu, aku selalu nyaman berada di dekatnya, aku merasa terlindungi berada di sampingnya, dan aku ingin selalu bersamanya.

Suatu siang, aku sedang duduk santai di dalam rumah, di dekat suatu jendela seperti biasa agar aku bisa melihat langsung kea rah rumah Galih. Entah mengapa aku senang melakukan kebiasaan itu. Namun tiba-tiba saja terlihat sebuah mobil keluar dari dalam rumahnya. Aku yakin, pastilah itu bukan Galih karena Galih akan selalu memberitahuku jika ia ingin pergi kemanapun. Beralih dari memandang rumah Galih, kulanjutkan aktivitas membacaku.

Karena merasa bosan, kuputuskan untuk main ke rumah Galih dan mengobrol bersamanya untuk membunuh waktu-waktu yang kosong tanpa kegiatan. Sesampai di rumah Galih, kosong tak tampak siapapun menghuni rumah itu. Kucoba buka pintunya berulang kali, tapi tetap saja tidak menghasilkan. “Yasudahlah nanti saja gue kesini lagi”, pikirku.
Waktu berganti kuulangi pergi ke rumahnya, tapi tak ada perubahan, nihil. Rumahnya tetap saja kosong seperti waktu tadi. Yang membuatku heran, bahkan pembantunya juga tak tampak di rumah itu. Rumah itu benar-benar kosong dan sepi. Mungkin saja mereka ke luar kota, tapi mengapa Galih tak memberikan kabar apapun untukku? Sempat kurasakan kecewa ketika memikirkan hal itu.
Tak ada yang tahu tentang kepergian Galih dan keluarganya. Hari berganti, selalu kucoba tuk pergi ke rumahnya dan berharap keadaan akan kembali seperti semula dengan keberadaan Galih dan keluarganya. Namun rumah itu tetap dalam keheningannya tanpa penghuni. “Astaga, kemana perginya mereka?” aku putus asa.

Ternyata keadaan itu berlangsung tak singkat. Hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan hampir satu tahun tak ada kabar dari Galih dan keluarganya. Keluargaku dan tetangga sekitar pun tak ada yang tahu tentang hal itu. Sudah beribu kali kucoba menelepon semua nomor yang kutahu akan terhubung dengannya, tapi tak ada yang bisa. Rasa rinduku begitu dalam untuk Galih. Aku rindu menghabiskan setiap waktuku bersamanya, aku rindu mendengarkan segala ceritanya, aku rindu sembunyi-sembunyi memperhatikannya, dan aku rindu semua tentangnya. Pernah suatu ketika terlintas di pikirku bahwa aku mencintai Galih. Ya, tak salah lagi bahwa aku benar-benar mencintainya. Inginku memilikinya tak hanya sebatas sebagai kakak, inginku hanya dia untukku, tidak untuk orang lain. Aku memang mencintai Galih, aku terlambat mengerti perasaanku ini terhadapnya dan sekarang aku menderita dalam sebuah ruang kerinduan yang kosong akan kehadiran dan keberadaannya.

Tiba-tiba saja aku mendengar kabar bahwa Galih dan keluarganya sudah kembali dari pergi panjangnya. Dengan sedikit keraguan, aku berusaha membuat kakiku berlari kencang menuju rumah Galih. Bahagia bukan kepalang berita itu benar dan aku melihat sesosok laki-laki itu di depanku. Tanpa berpikir panjang aku memeluk erat tubuh seseorang di hadapanku, Galih. Namun tiba-tiba saja ibu Galih dengan ramah menyuruhku melepaskan pelukan itu dan langsung menggandeng Galih masuk ke dalam rumahnya.
Ada yang tak biasa dengan sikap semua orang dan baru kusadari Galih pun tak bersikap layaknya seperti biasa. Ia hanya diam dengan wajah pucatnya dan tubuh kurusnya. Dia tampak begitu lemas dan kurasa sekarang ini dia sedang sakit. Lantas kemana perginya mereka selama ini? Tuhan, aku takut. Aku ingin keadaan ini kembali seperti sediakala.

Selidik demi selidik, kudapatkan ternyata Galih memang sedang sakit. Kepergiannya selama ini adalah untuk memberikan pengobatan untuk penyakitnya itu. Namun rupanya usaha itu tak menghasilkan apapun untuk Galih, bahkan penyakitnya kini kian menggerogoti tubuhnya. Aku tak tahu pasti sebenarnya penyakit apa yang sedang bersarang di tubuh Galih itu. Setiap hari selalu kucoba luangkan waktu untuk menjenguk Galih tapi rupanya ibunya tak mengizinkanku untuk menemui Galih. Sudah bersikeras kutunjukkan niatku untuk menemui Galih, tapi ternyata memang tak ada celah untukku. “Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi pada Galih?”, keluhku pada-Nya.

Di suatu siang bolong, kudengar kabar yang paling menyedihkan, paling menyakitkan, dan paling mengejutkan di sepanjang hidupku. Galih telah tiada dan pergi dari dunia ini untuk selamanya. Tak sadar rasanya aku menjerit pilu mendengar kabar itu. Dengan tak percaya, kuberlari menuju rumah Galih untuk membuktikan ketidakbenaran berita itu. Sesampainya di sana, terlihat sesosok tubuh yang terbaring diam di ruang tengah, terbujur kaku, dan terlihat pucat kulitnya. Dengan setengah kosong aku menatapnya. Aku pun mendekat ke tubuh itu dan langsung memeluk erat tubuhnya dengan tangisan yang tak dapat keluar dari mulutku. Aku tak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarku. Yang kuinginkan saat ini hanyalah memeluknya erat dan menenggelamkan tubuhku bersamanya. Terbayang segala kenangan yang kulalui bersamanya selama ini, terbayang segala kesediaannya menemaniku selama ini. Ingin kuteriakkan saat itu juga, “TUHAAAN JANGAN KAU AMBIL GALIH DARIKU”. Belum puas rasanya aku menjalani hari-hariku bersamanya. Tak pernah sekilas pun terpikirkan olehku bahwa suatu saat aku harus berpisah dan harus hidup sendiri tanpanya di sisiku. Ingin sekali kembali kuulang waktu-waktuku saat bersamanya. Belum sempat kusampaikan perasaan yang terlambat kusadari ini, bahwa sebenarnya aku mencintainya. “Ya Tuhan, tolong putarlah waktu agar dia tahu sebenarnya aku mencintainya Tuhan”.


Hari-hari tanpanya di dunia ini, begitu sulit rasanya meyakini bahwa sosoknya sudah tiada. Sekarang dia sudah berada di tempat yang nyaman karena terbebas dari rasa sakitnya. “Ah mungkin memang sudah seharusnya aku mengikhlaskan Galih pergi”, pikirku mencoba tegar.
“Yuli, ada yang ingin menemuimu sayang”, suara mama mengagetkan dan membuyarkan lamunanku. Muncul sesosok wanita yang sudah sangat kukenal dan sayang, dialah ibu Galih. Aku sempat kaget melihat beliau tiba-tiba ingin menemui dan berbicara denganku.
“Yuli, sebenarnya tante kesini ingin menyampaikan amanah dari Galih”, ibu Galih memulai pembicaraan itu. Mendengarnya jantungku tiba-tiba berdegup kencang.
“Amanah apa ya tante?”, jawabku terdengar penasaran.
Tanpa berbelit-belit, beliau pun menyampaikan amanah yang dimaksudnya.
“Sebenarnya selama ini Galih mencintai kamu Yuli”.

Kurasakan hening dan hampa secara tiba-tiba, kosong.

Semester2

Bukan bermaksud apapun, hanya mencoba untuk bertekad dan berdoa..

Amiiin ya Allaaaah....... :)

Jumat, 10 Februari 2012

Gema Inspirasi "ITB FAIR"

Pagi ini, kucoba torehkan di atas putih, momentum yang sempat terekam dalam otak ini.
Sabtu itu, 04 Februari 2012 di Sasana Budaya Ganesha ITB.
Tertulis Gema Inspirasi pada tiket yang telah kubayar dengan 35 ribu. Ya, acara itu memang bernama Gema Inspirasi. Terlihat jelas dari namanya, sudah pasti tujuanku mengikuti acara tersebut adalah harapan mendapatkan beribu gaungan inspirasi yang akan menjadi penggerak atau motorku untuk melangkah maju.
Banyak tokoh inspiratif yang hadir dalam acara talkshow itu, mulai dari Menteri Komunikasi dan Informasi RI, Bpk Tiffatul Sembiring, hingga penulis remaja kondang yang sudah pasti tak ada pemuda yang tak mengenalnya, dialah Raditya Dika.
Acara talkshow Gema Inspirasi ini merupakan salah satu rangkaian acara ITB Fair yang sudah pasti diadakan oleh mahasiswa-mahasiswa ITB. Dengan tema "Cipta Karya, Cinta Indonesia" diharapkan setelah diadakannya acara talkshow tersebut, bisa menggugah hati insan pemuda bangsa untuk mau dan berani berkarya untuk menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.
Dalam talkshow ini diangkat topik enterpreneurship. Ya, tak salah lagi enterpreneurship. Seyogyanya kita sebagai muda mudi bangsa ini dituntut untuk bisa menjadi seorang enterpreneur. Saya pun pernah mendengar bahwa bangsa yang besar, dialah bangsa yang mampu menjual, bukan bangsa pembeli yang kebanyakan warganya memiliki sifat konsumtif. Intinya sebagai generasi muda yang pasti nantinya akan menjadi seorang penerus dan penanggung kemajuan bangsa janganlah mau menjadi pesuruh atau orang yang selalu disuruh-suruh untuk diperintah melakukan ini dan itu.
Sebelum lebih jauh, dalam acara gema inspirasi ini kita diperkenalkan pada tiga jenis bentuk enterpreneurship, yaitu:
1. Technopreneur
Apa sih sebenernya technopreneur itu?
Nah, gampangnya, techno mempunyai maksud teknologi. Kalau dijadikan satu dengan preneur, akhirnya kata tersebut mempunyai maksud suatu usaha atau bisnis yang lebih menonjolkan dalam bidang teknologi. Di sini saya tidak akan mengungkapkan panjang lebar mengenai isi dari technopreneur dan bla bla nya, tapi saya hanya akan sedikit share tentang apa saja hal2 inti yang disampaikan oleh pakar2 technopreneur di dalamnya.
Dalam sesi ini ITB Fair mengundang beberapa pakar yang memang expert dalam bidang ini, beliau-beliau itu adalah ibu Martha Tilaar (siapa sih yg nggak kenal), Bpk Nurul Taufiqur Rohman (ahli metalurgi yg juga seorang enterpreneur kancah internasional), Kak Nadia Saib (alumni farmasi ITB yang berkutat dengan usaha sukses sabunnya).
Dari ketiga pembicara, dapat ditarik sebuah garis bahwa sebenarnya untuk terjun ke dalam suatu bidang yang ingin kita jalani, maka pilihlah sesuai apa yang kita sukai. Dengan kita mengerti dan mencintai apa yang akan kita kerjakan, hati pun akan ikhlas menjalaninya dan seberat serta sesulit apapun rintangan yang menghadang, maka akan mudah kita lalui. Namun ternyata, hanya bermodal suka dan cinta saja tidak cukup. Nampaknya mulai sejak dini kita harus terus berusaha untuk memperluas jaringan ataupun koneksi. Karena dengan networking, kita akan mudah dalam menyebarluaskan bisnis atau usaha apapun yang nantinya akan kita kelola. Selain itu, banyak bantuan pun yang takkan segan mengalir dari tiap relasi kita. Indahnya memang silaturrahmi itu.:)
2. Sociopreneur
Sesi kedua acara ini yaitu talkshow mengenai sociopreneur. Tak perlu dijelaskan lebih lanjut ya nampaknya apa itu sociopreneur, yang jelas usaha atau bisnisnya pasti berhubungan dengan bidang sosial. Adapula yang mengatakan kalau sociopreneur itu adalah socio develop yang mengangkat solusi enterpreneurship.
Nah, langsung saja beberapa tokohnya yaitu Bpk Bambang Ismawan (founder majalah TRUBUS), Bpk Teo Suprapto (saya menyebutnya pahlawan para petani), dan Habibie Afsyah (seorang remaja yang memang memiliki kekurangan secara fisik, tapi dia luar biasa dalam bidangnya sebagai seorang sociopreneur).
Dalam sesi ini yang menjadi fokus perhatian saya adalah jujur hanya pada Bpk. Teo saja. Namun, bukan berarti tokoh yang lain pada sesi ini kurang menarik, hanya saja gagasan-gagasan yang disampaikan oleh Bpk. Teo sungguh luar biasa menurut saya.
Awalnya beliau menyebarkan virus GILA kepada kami-kami para peserta talkshow. Eits tapi jangan terburu-buru. GILA disini menurut beliau adalah Gerakan Insan Lestarikan Alam. Luar biasa bukan sepenggal kalimat itu? Nah, beliau mengajak kita, generasi muda khususnya untuk mau peduli dengan lingkungan alam. Jangan mau kita diperbudak oleh apapun itu, sebut saja era teknologi untuk akhirnya mengabaikan alam. Seorang manusia yang berbuat hina kepada Tuhannya maka ia akan dikatakan pendosa. Seorang anak yang durhaka kepada ibu atau orang tuanya maka ia akan disebut pendosa. Lalu, kita sebut apa seorang manusia yang berbuat merusak kepada ibu pertiwinya, alam bumi, yang nanti akan mengandungnya? Luar biasa sekali paparan beliau mengenai hal tersebut. Beliau menyerukan bahwa takkan ada guna ataupun hasil jika dorongan dalam hati tidak ditindaklanjuti dengan perubahan sikap. Beliau pun meyakinkan kita akan 6 (enam) hal, yaitu IMPIAN. Sudah jelas sekali, untuk menjadi seorang manusia sukses haruslah kita mempunyai hal itu. IMAN. Mengimani Tuhan dan mimpi yang akan direalisasikan Tuhan adalah next key for success. IKHTIAR. Tindakan nyata yang hanya bukan sekadar omong belaka. IBADAH. Berdoa untuk perwujudan mimpi kita kepada Tuhan. IKHLAS. Tak ada pamrih ketika kita melakukan setiap pekerjaan, ikhlas hanya untuk mendapat ridho-Nya. Yang menjadi penutup kebahagiaan adalah IJABAH. Insya Allah impian, iman, ikhtiar, ibadah, serta ikhlas akan ditampakkan indahnya oleh Allah, yakni dengan ijabah. :)
3. Creativepreneur
Bisa dibilang sesi inilah yang paling ditunggu oleh peserta talkshow siang itu.
Diawali dengan penampilan stand up comedy Ernest yang sukses membuat gedung Sabuga bergetar (haha lebay) karena heboh tertawa dari peserta. Dilanjut dengan kemunculan tokoh-tokoh asik yang tetap dengan jiwa inspiratifnya. Ernest, Raditya Dika (novelist muda), Sujiwo Tedjo (seorang seniman dan budayawan yang nyentrik), Ridwan Kamil (arsitek muda profesional sekaligus dosen di ITB), dan Bachtiar Rahman (eksekutif produser film Laskar Pelangi) mengisi kursi-kursi yang berada di panggung depan.
Ernest dan Raditya Dika yang menjadi ikon pemuda kreatif dalam acara itu membeberkan setiap cerita tentang perjalanannya hingga menuju kesuksesan seperti sekarang ini. Banyak suka, lebih banyak lagi tentang kisah dukanya. (hehe) Kata yang pasti untuk mereka adalah inspiratif. Raditya Dika dengan passion menulisnya tak pantang menyerah dan terus berusaha untuk menunjukkan kepada dunia (alay (lagi)) bahwa ia mampu melakukan itu hingga menghasilkan sesuatu seperti sekarang ini. Contoh generasi muda yang mampu, tapi lebih tepatnya mau untuk berkarya dan bukan malah menjadi beban tanggungan bangsanya, dialah pemuda inspiratif itu.
Sujiwo Tedjo dengan misi keawetan dan kelestarian budayanya begitu menggebu-gebu dan bersemangat mengisi talkshow siang itu. Alumni ITB jurusan Teknik Sipil dan Matematika yang sekarang menjadi dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (gak nyambung) itu selalu menekankan bahwa sudah sepantasnya generasi muda melestarikan warisan nenek moyang yakni budaya. Tambahan pesannya kepada para peserta bahwa kita harus memiliki modal nekat untuk bermimpi. Ia buktikan dengan dirinya sendiri bahwa ia beralih dari seorang sarjana teknik sipil menjadi seorang seniman. Luar biasa nekat. Haha. :D
Yang tetap terkenang dari pesan seorang Bachtiar Rahman adalah dalam melakukan segala apapun, just follow your heart. It's so simple. ;)
Nah kalau dari arsitek muda yang satu ini, Ridwan Kamil, menurutnya ada tiga kunci yang bisa mengantarkan seseorang ke arah kesuksesan, TALENT. Setiap orang pasti memiliki talent masing2 yang telah diberikan oleh Tuhan. TOLERANT. dan TECHNOLOGY.
Begitulah papar Ridwan Kamil, dan the last, satu kalimat darinya,
Siapa yang berinovasi, dialah yang memimpin.
-------------------------------------------------------------------
Berakhirlah sudah acara luar biasa itu. Semoga kata-kata yang sudah disampaikan oleh tokoh2 inspiratif itu dapat memberikan dorongan dan menjadi penggerak untuk menuju kesuksesan, tidak hanya untuk sekarang, tapi untuk saat-saat nanti dan di saat kita melangkah.
prok prok prok prok

Sabtu, 22 Oktober 2011

Penyebab Timbulnya Stres pada Remaja


     Sedikit mengulas mengenai stress yang seringkali kita alami, sebagai manusia yang selalu berpikir, dalam hal ini lebih ditekankan pada remaja.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
A.  Stres
1.         Pengertian
Stres merupakan suatu kondisi atau keadaan tubuh yang terganggu karena tekanan psikologis yang dapat mempengaruhi keadaan fisik seseorang. Selain itu, stres dapat pula diartikan dengan suatu kekuatan yang memaksa seseorang untuk berubah, bertumbuh, berjuang, beradaptasi atau mendapatkan keuntungan. Kedua pernyataan tersebut merupakan  sebagian kecil dari sekian banyak definisi mengenai stres. Banyak para ahli mengemukakan tentang definisi stres, salah satunya adalah Dr. Hans Selye yang mengemukakan bahwa stres adalah respons umum terhadap adanya tuntutan pada tubuh. Selain Dr. Hans Selye, adapula Richard S Lazarus yang menyatakan stres sebagai kondisi yang dialami bila seseorang sadar bahwa dirinya dituntut untuk bertindak melebihi sumber daya personal dan sosial yang dimilikinya.
Biasanya stres dikaitkan dengan penyakit kejiwaan. Namun adakalanya stres dapat dikaitkan dengan penyakit fisik. Banyak buku-buku kedokteran menyatakan bahwa hampir 50-70 % penyakit fisik disebabkan oleh stres atau tekanan. Hal tersebut dapat terjadi akibat dari penyakit kejiwaan yang dapat menyerang fisik apabila daya tahan tubuh penderita dalam keadaan lemah.
Manusia haruslah menganggap bahwa stres adalah suatu tantangan dalam hidup yang memanglah harus dilalui. Tanpa adanya stres, manusia takkan hidup dengan normal. Dengan munculnya stres, manusia harus bergerak untuk melawan stres.
Siapapun dapat mengalami stres, baik orang dewasa, remaja, maupun anak-anak sekalipun. Orang dewasa dapat mengalami stres ketika ia mendapatkan suatu masalah atau perubahan hidup, baik bersifat positif maupun negatif yang dapat menekan jiwa dan pikirannya. Remaja dapat pula mengalami stres ketika ia dihadapkan dengan suatu keadaan dimana terjadi perbedaan antara apa yang ada di dalam dirinya, baik dalam hati ataupun pikirannya terhadap kenyataan yang terjadi dalam kehidupan yang baru dikenalnya. Selain remaja maupun orang dewasa, anak-anak pun dapat mengalami stres. Mereka dapat mengalami stres ketika berada dalam kondisi atau keadaan yang memaksanya harus melakukan sesuatu.
Berdasarkan berbagai pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian stres adalah suatu bentuk respon dari dalam diri seseorang terhadap suatu keadaan yang menekan, baik jiwa maupun pikiran yang dapat dijadikan sebagai suatu kekuatan untuk berubah dan berjuang.
2.         Macam stres
Secara umum, stres diklasifikasikan menjadi 2 macam, yakni disstress (stres negatif) dan eustress (stres positif).
a.    Disstress (Stres negatif)
Disstres merupakan stres yang menciptakan pengaruh yang buruk atau negatif terhadap penderita stres. Contoh dari pengaruhnya adalah seseorang dapat merasakan suatu perasaan cemas, khawatir, menderita suatu penyakit fisik, atau hal negatif lainnya.
b.    Eustress (Stres positif)
Umumnya stres diketahui pasti bersifat negatif. Namun, setelah Dr. Hans Selye melakukan penelitian panjangnya, ia mengungkapkan bahwa ternyata stres pun ada yang bersifat positif. Eustress merupakan stres yang menciptakan pengaruh yang baik atau positif terhadap penderita stres. Hal ini berarti, sang penderita mampu mengalihkan stresnya ke hal-hal yang bermanfaat, contohnya stres tersebut dapat menjadikan seseorang berpikir atau bertindak kreatif, memiliki sikap kewaspadaan, memiliki pengalaman dapat menyelesaikan/menghadapi suatu masalah atau kondisi yang serupa, dan lain sebagainya.

B.  Sumber stres
Stres tak mungkin muncul begitu saja tanpa adanya penyebab. Hal-hal yang menjadi penyebab atau sumber dari munculnya stres disebut sebagai stressor. Banyak hal-hal yang ada di sekitar kita, bahkan yang ada dalam diri kita yang dapat menjadi sumber dari munculnya stres. Untuk lebih jelasnya, penulis memisahkan antara penyebab munculnya stres secara global dan penyebab munculnya stres pada remaja khususnya.
1.             Secara global
Yang menjadi sumber utama stres yaitu lingkungan, badan, dan pikiran. Faktor lingkungan dapat diperluas menjadi faktor lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Faktor lingkungan fisik yang dapat menjadi sumber stres, misalnya suhu, cahaya, polusi, udara, dan kepadatan. Contohnya adalah seseorang yang terbiasa tinggal di lingkungan pedesaan dengan udara yang bersih dan sedikit polusi harus merasakan tinggal dalam lingkungan perkotaan dengan udara yang tak lepas dari banyak polusi. Kemungkinan besarnya, orang tersebut akan mengalami stres diakibatkan lingkungan fisik yang tak biasa ditemuinya. Selain lingkungan fisik, adapula lingkungan sosial. Lingkungan sosial yang dapat menjadi sumber stres meliputi individual dan kelompok. Contoh sumber stres yang berupa individual adalah konflik peran dan tanggung jawab. Sedangkan contoh sumber stres yang berupa kelompok adalah hubungan dengan keluarga, teman, dll.
Sumber stres lainnya adalah badan. Faktor tersebut diartikan bahwa stres dapat muncul akibat adanya suatu tuntutan dalam tubuh untuk menyesuaikan diri dengan adanya perubahan dalam diri tersebut. Bentuk respon terhadap stres pada setiap orang berbeda-beda. Respon terhadap stres dimulai dan dikontrol oleh sistem saraf pusat (terdapat di otak dan sumsum tulang belakang) kemudian otak memberikan sinyal kepada kelenjar adrenal untuk mengeluarkan hormon adrenalin (ephinephrine dan norephinephrine) yang akan menimbulkan reaksi menyerah dan berjuang untuk menghadapi stres.
Selain faktor lingkungan dan badan, adapula faktor pikiran yang dapat menyebabkan stres. Seringkali orang menggunakan pikirannya untuk menafsirkan atau menganggap sesuatu bersifat negatif. Pikiran seperti inilah yang sering mengundang datangnya stres.
2.             Secara khusus pada remaja
Begitu mudah stres muncul pada diri seorang remaja. Remaja masih begitu labil sehingga hal inilah yang memicu munculnya stres pada diri remaja dengan mudah.
Penyebab munculnya stres pada remaja umumnya sama dengan penyebab munculnya stres secara global. Namun, lebih spesifiknya, sumber stres pada remaja seringkali disebabkan oleh faktor lingkungan sosial (individual dan kelompok), badan, maupun pikiran. Jarang ditemukan stres pada diri remaja disebabkan oleh faktor lingkungan fisik.
Faktor lingkungan sosial menjadi salah satu faktor penyebab munculnya stres pada remaja. Seperti yang telah dijelaskan pada sumber stres secara global, faktor lingkungan sosial dibedakan menjadi individual dan kelompok. Contoh dari faktor lingkungan sosial yang berupa individual adalah ketika seorang remaja dibebani sebuah tanggung jawab yang dirasa begitu sulit dilakukannya, maka tak jarang ia akan mengalami tekanan dalam dirinya yang juga disebut dengan stres. Sebenarnya masalah tersebut dikembalikan kepada individu masing-masing, tergantung bagaimana cara seseorang memandang masalah tersebut. Hal tersebut tidak akan menjadi sebuah tekanan apabila individu tersebut tidak memandangnya sebagai suatu tekanan. Begitulah maksud contoh penyebab stres pada remaja dari faktor individual.
Selain individual, ada pula perluasan faktor lingkungan sosial yang berupa kelompok. Contohnya dari faktor tersebut adalah seorang remaja yang harus menghadapi suatu masalah yang terjadi dalam hubungan keluarga, seperti terjadi perceraian di antara kedua orang tua remaja. Masalah tersebut dapat menimbulkan stres pada diri seorang remaja. Selain dalam hubungan keluarga, dapat pula terjadi dalam hubungan dengan kelompok lain, kelompok teman misalnya. Seorang remaja yang memiliki konflik dengan temannya juga dapat memicu munculnya stres.
Seperti yang telah disebutkan bahwa seorang remaja begitu mudah terkena stres. Penyebabnya adalah kondisi dari remaja itu sendiri yang masih labil. Dalam hal ini, seorang remaja mengalami fluktuasi hormon dan proses menuju kedewasaan. Usia remaja merupakan usia peralihan dari massa kanak-kanak menuju dewasa. Hal tersebut menyebabkan banyak sekali perubahan dalam diri remaja, khususnya emosi dari remaja tersebut.
Sikap-sikap atau emosi yang biasanya terdapat dalam diri seorang remaja antara lain merasa ingin menang sendiri (egois), menganggap bahwa dirinya adalah orang yang paling benar, mudah marah dan lain sebagainya. Sikap-sikap itulah yang dapat menjadikan stres mudah dialami oleh remaja dari segi emosional.

C.  Pengaruh Stres pada Remaja
Pengaruh dari seringnya mengalami stres akan berakibat buruk pada otak, ketidakseimbangan kimiawi. Stres juga akan berpengaruh pada kefokusan, memori, dan konsentrasi. Hal tersebut misalnya terjadi pada seorang pelajar yang seringkali mengalami stres, maka konsentrasinya akan terganggu khususnya dalam menerima pelajaran di sekolah. Ia takkan fokus pada pelajaran yang diberikan oleh gurunya sehingga hal itu akan mengganggu prestasinya di sekolah.
Selain itu, stres juga dapat berpengaruh terhadap pribadi seorang penderita stres, baik pengaruh negatif maupun positif. Bentuk pengaruh stres sebenarnya ditentukan oleh seseorang yang mengalami stres tersebut. Seseorang yang cenderung mudah menyerah dalam mengahadapi masalah akan menimbulkan pengaruh yang buruk (negatif) dari kemunculan stres tersebut. Sedangkan seseorang yang selalu berusaha untuk melawan stres yang datang akan menimbulkan pengaruh yang baik (positif) dari kemunculan stres tersebut.
Stres yang dialami oleh seorang remaja memberikan pengaruh terhadap masing-masing diri remaja tersebut. Berikut adalah contoh dari pengaruh stres terhadap remaja, baik berupa pengaruh negatif maupun positif :
Ada dua pelajar, yaitu pelajar A dan pelajar B. Mereka sama-sama mendapatkan nilai ulangan di bawah rata-rata. Karena hal itu, kedua pelajar tersebut mengalami stres. Akan tetapi dalam menanggapinya, antara keduanya mengalami perbedaan. Pelajar A menanggapinya dengan tidak berangkat sekolah karena malu dengan teman-temannya. Sedangkan pelajar B menanggapinya dengan belajar lebih sungguh-sungguh agar ia dapat memperbaiki nilainya. Hal ini menunjukkan bahwa stres memberikan pengaruh negatif kepada pelajar A, yaitu menjadikan pelajar tersebut seorang pemalas dan takut menghadapi suatu kenyataan. Namun stres memberikan pengaruh yang positif kepada pelajar B, yaitu menjadikan pelajar tersebut rajin belajar dan berani menghadapi suatu masalah.
Dari contoh tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa stres dapat memberikan pengaruh negatif kepada remaja yang biasanya mudah menyerah ketika menghadapi suatu masalah. Sedangkan stres dapat memberikan dampak/pengaruh positif kepada remaja yang cenderung lebih berusaha keras ketika menghadapi suatu masalah.

D.  Cara Menghindari dan Mengatasi Stres pada Remaja
Cara untuk menghindari ataupun mengatasi stres pada remaja sama dengan orang dewasa pada umumnya. Namun, haruslah disesuaikan dengan kondisi dari remaja tersebut. Berikut adalah cara untuk menghindari dan mengatasi stres pada remaja secara umum:
- Jauhkan diri dari situasi-situasi yang menekan.
Untuk menghindari datangnya stres, hendaknya kita menjauhi suatu keadaan yang menekan, seperti apabila kita merasa tertekan ketika harus mendapatkan nilai di bawah rata-rata, maka kita harus berusaha keras agar tak mendapatkan nilai di bawah rata-rata.
- Jangan mempermasalahkan hal-hal yang sepele.
Ketika seseorang seringkali membuat sesuatu hal yang sepele menjadi suatu masalah, maka banyak kemungkinan orang tersebut akan sering mengalami stres. Sehingga untuk menghindari kemungkinan datangnya stres, hendaknya tidak mempermasalahkan suatu hal atau keadaan yang sepele. Biarkanlah hal atau kedaan tersebut berjalan apa adanya.
- Kendalikan pikiran.
Mengendalikan pikiran merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindari ataupun mengatasi stres. Ketika seseorang mengalami stres, hendaknya ia menganggap bahwa dirinya mampu melewati tekanan tersebut. Hal itu akan memicu timbulnya semangat dalam diri untuk bangkit dari keadaan yang menekan.
- Kurangi stimulan penyebab stres.
Stres biasanya merupakan efek samping dari kebanyakan kafein. Stimulator sistem saraf pusat yang dipengaruhi kafein itu bertentangan dengan relaksasi tubuh dan ketenangan pikiran yang akan memicu munculnya stres. Sehingga untuk menghindari ataupun mengatasi munculnya stres, hendaknya kita harus mengurangi stimulan penyabab stres yaitu berupa minuman atau apapun yang mengandung kafein dan minuman bersoda.
- Cukup istirahat.
- Olahraga secara teratur
- Makanlah makanan yang sehat
- Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan.
Untuk menghindari munculnya stres, hendaknya kita harus meluangkan waktu untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan, seperti membaca, menonton, mendengarkan musik, ataupun berkumpul dengan teman-teman.
-----------------------------------------------------------------------------------------
semoga tulisan di atas dapat memberikan manfaat.:)

Jumat, 07 Oktober 2011

7-Habits



Akan menjadi sesuatu yang tak mudah ketika saya dituntut untuk bertransformasi menjadi diri saya yang baru. Salah satu masa hidupku saat ini, suatu bentuk perubahan diri, yaitu masa transisi dari seorang siswa menjadi sebuah nama besar yang memanggul tanggung jawab besar pula, seorang mahasiswa. Masa ini bukanlah masa yang mudah dan enteng. Mulai dari mengubah pola pikir, mengoreksi cara pandang, dan mungkin saja hingga membenahi kebiasaan, menjadi pr dan tugas yang terbenam dalam otakku. Pola pikirku yang tak ada kata dewasa sama sekali dalam kedudukannya haruslah kugeser tingkatannya sehingga menuju pola pikir fase dewasa. Tak hanya sebatas pola pikir, sama halnya untuk menjadi sebuah pribadi yang lebih agung, cara pandang haruslah ditata dan tentunya diatur dengan tatanan yang rapi. Pembenahan kebiasaan pun akan memudahkan kita untuk melangkah maju dan terus maju ke depan karena kebiasaan yang baik akan membentuk suatu kepribadian yang baik pula, terutama dalam persiapan bagi sebuah harapan bangsa, seorang mahasiswa.
Tak bisa dielakkan bahwa mimpi dan angan masyarakat suatu negara digantungkan pada bangsa mudanya, terutama para mahasiswanya. Hal itu memanglah masih mendiam dalam pikiranku, sanggupkah aku nantinya menjadi suatu guna bagi bangsaku sendiri. Memanggul angan dan cita yang besar milik bangsa, sulit tak terkira tentunya. Untuk menempatkan diri sendiri pada suatu mimpi pun dibutuhkan suatu kerja keras serta pengorbanan di setiap kaki melangkah, apalagi untuk menuju suatu mimpi besar bangsa pasti dituntut agar kita dapat melakukan suatu kerja atau usaha melebihi untuk kepentingan keberhasilan diri pribadi. Memang tak mudah, bahkan jelas sangat sulit untuk menjalani setiap proses itu. Namun seluruh agen pendidikan pasti berusaha untuk mempersiapkan segala hal itu, salah satunya adalah kampus tercinta, Institut Teknologi Bandung.
Dalam rangkaian program penerimaan mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung tahun 2011 ini terdapat program yang dinamakan “Pelatihan 7 Habits”. Kegiatan ini adalah tahun pertama kali diselenggarakan di ITB dalam rangkaian program penerimaan mahasiswa baru. Dalam hal ini, ITB bertujuan agar para mahasiswanya tak hanya cerdas dalam akademiknya tetapi juga unggul dalam segala bentuk kepribadiannya dengan cara mengasah kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan dalam “Pelatihan 7 Habits” ini. Inilah cerita saya setelah dua hari mengikuti kegiatan “Pelatihan 7 Habits”.
Pertama kali mendengar bahwa pada tahun ini ITB akan mengadakan program “Pelatihan 7 Habits”, saya sangat tertarik. Saya berpikir kegiatan tersebut pasti akan sangat bermanfaat, khususnya bagi kami, para mahasiswa baru, yang belum mengerti apapun mengenai pengalaman kehidupan kampus. Selama mengikuti kegiatan pelatihan, jujur saja saya sempat mengalami kebosanan dalam menerima materi yang diberikan dari fasilitator. Teori itu memang dengan sangat mudah dapat dihafalkan, mulai dari “Be Proaktif, Begin with the End in Mind, Put the First Thing First, Thing Win-win, Seek to Understood and then to be Understand, Sinergis, hingga Sharpened the Saw”. Namun ternyata aplikasinya tak semudah bagi kita untuk mengingat kata-katanya.
1.        Be Proaktif
Poin ini mengajarkan kepada kita untuk dapat menerima suatu keadaan tanpa mengeluarkan suatu bentuk keluhan apapun dan memberikan aksi atau tindakan positif terhadap keadaan tersebut. Saya berpikir bahwa dalam hidup saya, saya harus selalu mengingat “be proaktif” ini. Sifat saya yang cenderung suka mengeluh bahkan tak jarang menyalahkan keadaan tertentu ketika terjadi suatu masalah, itu akan menjadi suatu masalah baru yang nantinya saya yakin akan merugikan diri saya sendiri. Menjadi seseorang yang sadar dan mengerti akan “be proaktif” memang tidak mudah dalam prosesnya untuk menuju hal itu. Dibutuhkan adanya latihan dan kemauan untuk membiasakan diri dalam menerapkan poin tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan kuliah baru-baru ini, saya merasa beberapa masalah datang beruntun pada saya, salah satunya adalah masalah akademik, yang saya pikir tak hanya saya yang mengalami masalah tersebut. Salah satu contoh kasusnya adalah saya menerima nilai kuis dari salah satu mata kuliah dan baru pertama kali itu saya mendapat nilai yang sangat menyedihkan, yakni 30. Nilai itu memang menjadi tekanan batin yang sangat berat bagi saya. Namun, tidak pantas rasanya apabila ilmu yang sudah saya dapatkan dalam pelatihan 7 habits ini tidak saya aplikasikan. Memang awalnya saya kecewa tetapi saya merasa bahwa kekecewaan itu tidak boleh berlarut-larut. Saya harus segera kembali ke dalam diri saya dan secepat mungkin menemukan solusi yang tepat bagi masalah itu. Yang ada dalam pikiran saya adalah mungkin ini memang bentuk awal dari perjalanan saya yang justru memberikan peluang bagi saya untuk melakukan intropeksi diri agar menuju hasil terbaik. Saya memang masih merasa tidak bisa memanage waktu dengan baik sehingga saya dituntut agar bisa menjadi pengatur waktu yang baik. Tak hanya itu, saya pun berpikir mungkin saja ada sedikit kekeliruan dalam belajar saya sehingga solusinya adalah saya harus bisa segera menemukan metode belajar yang lebih efektif dan efisien. Dengan “be proaktif”, saya yakin akan menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan saya akan terus melatih diri saya dengan membiasakan diri untuk selalu menerapkan prinsip ini dalam menghadapi suatu masalah sehari-hari.
2.        Begin with the End in Mind
Tak cukup hanya menjadi seorang yang proaktif saja. Habit selanjutnya adalah kita  harus membiasakan diri untuk selalu memikirkan tujuan apa yang ingin kita capai. Agar terbentuk suatu langkah yang yakin dan benar, mulanya kita diharuskan untuk memiliki sebuah tujuan. Tak mungkin kita tahu akan melangkah kemana apabila dalam hidup ini kita tidak memiliki tujuan apapun. Inti dari semua pernyataan itu, mulailah semua langkah dalam kehidupan ini dengan memikirkan apa sebenarnya tujuan akhir kita. Jadi, dengan otomatis langkah kita pun akan terarah dan tertuju pada sebuah titik mimpi yang kita harapkan. Contoh kasus yang pernah saya alami dalam hal ini adalah ketika saya gagal untuk mengikuti olimpiade sains mewakili sekolah saya hanya di tingkat kabupaten/kota. Sangat menyesal ketika saya harus melewatkan kesempatan yang seharusnya bisa saya dapatkan untuk mengukir prestasi di SMA. Pada waktu itu diadakan seleksi olimpiade sains tingkat sekolah dan sudah pasti saya semangat mengikuti kegiatan itu. Di akhir cerita, saya sempat kaget, menyesal, dan cukup kecewa ketika tahu bahwa ternyata saya tidak berhasil lolos seleksi itu. Saya merasa bahwa saat itu kesempatan saya telah tertutup untuk bisa mengikuti suatu kompetisi mewakili SMAku. Namun akhirnya saya menyadari suatu kekurangan yang menyebabkan saya kalah pada waktu itu. Meskipun saya merasa ingin dan mau untuk lolos seleksi, sebenarnya saya tidak memvisualisasikan tujuanku itu dalam benak dan pikiran saya. Hal itu menyebabkan kekuatan pikiran saya tidak terlalu kuat sehingga akhirnya terbentuklah langkah-langkah yang seharusnya tidak saya ambil. Keadaan itu akhirnya menjadi pengalaman dan pelajaran dalam kehidupanku agar selalu menjadi orang yang “begin with the end in mind”.
3.        Put the First Thing First
Satu kata mudah untuk mewakili poin di atas adalah prioritas. Dalam hidup ini, kita harus memiliki sebuah prioritas, apalagi ketika kita barada dalam suatu keadaan yang menuntut kita untuk memilih. Prioritas adalah hal mana yang kita anggap lebih dulu penting untuk dipenuhi atau dikerjakan, maka pilihlah hal itu. Sebagai seorang yang aktif, mahasiswa haruslah bisa menentukan suatu prioritas karena tentu kita akan dihadapkan pada keadaan-keadaan yang mengharuskan kita untuk menomor duakan sesuatu. Dalam hal ini, kita harus bisa menganalisis kebutuhan kita sendiri, pilihan mana yang kira-kira lebih penting bagi kita. Apabila kita terbiasa menjalankan poin ini, maka saya yakin bahwa tak akan menjadi mustahil kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam menentukan sikap dan pastinya bertanggung jawab dalam setiap pilihan yang diambil.
4.        Thing Win-win
Setelah berkutat kepada diri sendiri dalam tiga poin, yaitu be proaktif, begin with the end in mind, dan put the first thing thing, akhirnya dalam poin ini kita akan melibatkan orang lain untuk membentuk kebiasaan baik kita. Thing win-win mengajarkan kita agar tidak hanya memikirkan kemenangan diri sendiri tetapi juga merangkul orang lain untuk menang. Tentunya tidak ada kata egois agar prinsip ini dapat berjalan. Di sini kita lebih banyak dituntut untuk mau peduli terhadap orang lain. Namun bukan berarti ketika kita memberikan kemenangan untuk orang lain, maka kita harus membiarkan diri kita kalah. Prinsip ini akan berlaku apabila tak hanya saya ataupun orang lain yang menang tetapi saya dan orang lainlah yang sama-sama menjadi seorang pemenang. Bagi saya, poin ini sangat sulit untuk dibiasakan karena tak hanya saya harus mengatur diri sendiri tetapi saya pun harus mau dan bisa membuat orang lain berbagi kemenangan dengan saya. Apabila prinsip ini terbiasakan dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin akan menjadi sosok yang lebih peduli dan tidak egois.
5.        Seek to Understood and then to be Understand
Jika kamu mau didengarkan, maka dengarkan orang lain. Jika kamu mau dihormati, maka hormatilah orang lain dan jika kamu mau dipahami, maka pahamilah orang lain. Semua hal itu memanglah sebuah hukum alam, ketika kita melakukan suatu aksi, maka timbullah suatu reaksi yang pastinya tergantung dari aksi kita. Prinsip ini mengajarkan saya untuk mau berusaha melakukan sesuatu ketika saya menginginkan sesuatu itu. Contoh kasus sederhananya adalah ketika saya menginginkan kamarku bersih, maka saya harus mau membersihkannya. Prinsip ini sebenarnya tak bisa kita lakukan untuk diri kita sendiri, melainkan pasti akan melibatkan orang lain agar manfaat prinsip ini bisa kita dapatkan. “Pahamilah, baru kemudian kamu dipahami”J
6.        Sinergis
Sebenarnya tak cukup hanya pada lima prinsip di atas, masih ada prinsip “sinergis” yang mengharuskan kita untuk mampu bersinergi atau bekerja sama dengan banyak orang untuk melakukan sesuatu yang produktif. Sinergi ini tak hanya berhubungan dengan satu orang saja tetapi banyak orang sehingga kita akan terbiasa dengan “team work”. Dengan bekerja bersama tim, akan menghasilkan suatu pekerjaan yang lebih daripada ketika kita melakukan pekerjaan itu sendirian. Jadi sebenarnya sinergi ini sangat penting bagi kita untuk menghasilkan sesuatu yang lebih, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Saya selalu berpikir bahwa kemampuan kita untuk bersinergi dengan orang lain atau bekerja secara tim itu sangat dibutuhkan, apalagi nantinya ketika kita harus terjun dalam dunia pekerjaan. Oleh karena itu, saya ingin selalu mengasah kemampuan bersinergi saya agar saya tidak merasa kesulitan ketika kita dituntut untuk menerapkan prinsip “team work”.
7.        Sharpened the Saw
Apabila kita sudah menerapkan keenam habits itu, kita tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Pengembangan-pengembangan diri serta pembaharuan harus selalu dilakukan untuk menjadi yang lebih baik. Tak ada artinya keenam habits itu jika tidak selalu diasah agar menuju kebiasaan yang mendekati sempurna, jadi prinsip “sharpened the saw” juga penting bagi kelangsungan keberhasilan pembentukkan kepribadian ini.
Saya tahu, tidak cukup hanya satu bulan untuk membiasakan diri dalam melaksanakan 7 habits tersebut. Sedikit demi sedikit dan dengan pasti saya akan selalu berusaha menerapkan prinsip-prinsip yang sudah saya dapatkan di pelatihan 7 habits. Saya mengakui bahwa semua itu membutuhkan proses dan haruslah dengan kemauan dan tekad yang kuat agar nantinya pelatihan ini dapat memberikan manfaat dalam kehidupan kita. Apabila kebiasaan-kebiasaan baik tersebut sudah melekat dalam diri kita, sudah pasti dan tentu 3 nilai inti ITB dapat dicapai dengan mudah, yaitu integritas, prestasi, dan komitmen. Integritas akan dengan sendirinya muncul dalam diri seorang mahasiswa ITB apabila kita sudah terbiasa dalam mengatasi diri sendiri, orang lain, dan orang banyak. Karakter integritas itu tanpa disadari akan menjadi milik kita. Tak hanya integritas, prestasi pun akan mudah dicapai ketika segala penyokongnya, yaitu 7 habits itu sudah mampu ditaklukkan. Saya berpikir, prestasi akan menjadi nilai yang paling mudah dicapai dalam hal ini. Nilai inti selanjutnya adalah komitmen. Setelah menerapkan seluruh  nilai 7 habits, sudah pasti kita bisa memanage diri sendiri, bahkan orang lain. Jadi akan menjadi hal yang mudah bagi seorang mahasiswa untuk berkomitmen apalagi komitmen dalam hal kemajuan tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi orang lain, hingga bangsa, bahkan almamater.